Bagaimana Kaipang menuju ILC 2014 Sinjai?

Saya dan BlankOn (Video)

“BlankOn Linux memenuhi setiap kebutuhan saya.”

http://blankonlinux.or.id

Musik :
– Ost. Kita Punya Bendera
– Mission Impossible by Lalo Schriffin
from album : Delman Fantasy (IMC Record)
Arranged and played by Jubing Kristianto
http://jubing.net

Dibuat dengan :
Nikon D5000, ffmpeg, avconv, VirtualBox, Audacity, KdenLive dan BlankOn 9.0 Suroboyo.

Trusty Tahr Release Party!

Yak, akhirnya setelah sekian lama tidak mengadakan acara release party, minggu kemarin (22 Juni 2014) KPLI NTB bersama FOSSI Lotim didukung STT Hamzanwadi mengadakan Trusty Tahr Release Party di kampus STT Hamzanwadi, Pancor – Lotim. Dari Mataram, yang berangkat adalah pak Ajoeh, pak Okky aka Berhandang (yang dengan susah payah digaet keluar rumahnya), Ketupang, Cepul dan saya sendiri. Senang sekali mendapati atmosfer open source di Lotim begitu menggairahkan, sampai saya lupa bahwa ada juga komunitas Linux Selaparang yang dulu pernah kami kunjungi. Mestinya diajak juga tapi ya sudahlah. Mudahan di kesempatan berikutnya komunitas Linux Selaparang dan komunitas lainnya yang memiliki visi yang sama dapat ikut berkumpul.

Terima kasih kepada bapak Deni Marswandi, Aswan Editri, dan kawan-kawan FOSSI atas inisiatifnya mengadakan acara ini. Sejatinya acaranya ini disulut saat Trusty baru dirilis, namun karena berbagai hal, baru sekarang dapat dilaksanakan. Semoga semangat komunitas ini dapat terus kita bakar-bakar.

Bersama tulisan ini pula saya mengumumkan bahwa telah diresmikan berugak saingan Sevenwonder persembahan Berhandang yang dinamakan “Upstair”, lokasinya persis di atas atap rumah Berhandang. Mari kita kopdar di sana di kesempatan selanjutnya.πŸ˜€

dilaporkan oleh Piko yang tadi lupa sahur.

Migrasi Warnet Kedai Digital Ke GNU/Linux

Kedai Digital, Jalan Kartini no: 18 Dompu Nusa Tenggara Barat.

Pemilik: Aba Lis (Mukhlis https://www.facebook.com/mukhlis.kedai)
Unit: 9 Unit (8 klien 1 billing)
Game Online: Ya (Steam)
File Sharing: Ya (samba)
Print Server: Ya (CUPS)
Mesin Fotokopi: Ya (Canon iR5000i dengan CUPS lewat LAN)
Sistem Operasi: Debian Wheezy 7.5 Gnome
Mandor Proyek: edzlapz (Edhi Kurniawan – https://www.facebook.com/edhidompu.bada)
Kuli Proyek: edzlapz juga
Pembantu Umum: blek

TOTAL BIAYA:
25 bungkus rokok, 47 gelas kopi, 30 donat, 25 nasi bungkus, 5 bungkus kacang, 11 botol teh, 120% cinta dan persahabatan.

Freezing system menggunakan Dafturn Ofris.
http://sourceforge.net/projects/dafturnofris-id/

Billing system menggunakan GBilling.
http://gbilling.sourceforge.net/

Berkas-berkas GBilling yang sudah dikompail untuk dapat berjalan di Debian Wheezy 7.5 untuk arsitektur x86 bisa didapatkan melalui:

Client – http://dompu.org/gudang/gbilling-client_0.3.2-1_i386_debian_wheezy_7.5.deb
Server – http://dompu.org/gudang/gbilling-server_0.3.2-1_i386_debian_wheezy_7.5.deb

migrasi-kedai-digital

Uji coba Proxmox sebagai wadah untuk Aplikasi Eplaq-Eqvet

Eplaq dan Eqvet adalah nama aplikasi pemerintah dari Barantan. Aplikasi tersebut berbasis Windows, bergantung pada database MySQL dan bisa dirancang sebagai lingkungan server-klien. Selama ini, di kantor dipasang sebagai standalone, tidak bergantung pada server manapun (padahal ada 2 mesin server nganggur).

Nah, tiba-tiba datang komputer server baru dari Pusat. Benar-benar server, sebuah IBM System X3650M4, lengkap beserta UPS APC 220VA dan rak server setinggi dada. Ini benar-benar mesin yang keren dan saya selalu jatuh cinta dengan desain IBM yang serba modular. Sebulan pertama saya sibuk baca dokumentasi dan merakitnya sebelum menyadari bahwa intruksi yang datang bersama barang ini membingungkan : hanya boleh digunakan untuk kepentingan Eplaq dan Eqvet. Eplaq dan Eqvet adalah dua aplikasi yang berbeda, meskipun secara teknis bisa digabung dalam satu sistem operasi, pengoperasian dan syarat teknisnya cukup merepotkan. Salah-salah update di satu aplikasi akan merusak aplikasi lain. Di lain hati, saya menginginkan setidaknya mesin itu dipasangi sistem Unix-like yang storage-nya digunakan untuk berbagi berkas (yang mana terbukti efisien di kantor saya yang lain). Jadi bagaimana?

Solusinya adalah virtualization. Dulu saya cuma ngangguk-ngangguk-gak-ngerti dengar virtualization-whatever. Baru sekarang saya mengerti apa dan bagaimana.

Proxmox VE (Virtualizatio Environment) adalah distribusi GNU/Linux berbasis Debian 64 bit, yang menyediakan lingkungan virtualisasi yang open source, berbasis KVM dan OpenVZ. Sederhananya begini : ingat VirtualBox? VMware? Nah, bedanya, Proxmox tidak meload GUI apa pun (yang berarti lebih hemat RAM), dibantu modul kernel untuk KVM, virtualisasinya hampir secepat aslinya. Proxmox VE dikendalikan dari antar muka web yang mudah dipelajari. Jadi dengan Intel Xeon E5-2609 2.4Ghz dan 4GB RAM DDR3, saya membaginya ke 3 mesin virtual : 2 mesin Windows untuk Eplaq Eqvet dan 1 mesin FreeNAS untuk berbagi pakai berkas. Saya yang terbiasa dengan VirtualBox, tidak menemukan banyak kesulitan dalam beradaptasi dengan Proxmox. Semua serba familiar, termasuk manajemen container. Mesin virtual yang sudah dibuat dapat diatur agar dinyalakan otomatis begitu Proxmox selesai diboot.

Bagaimana dengan ethernet? Ethernet fisiknya bisa di-bridging ke dalam sistem operasi virtual, jadi gak masalah. Benar-benar menarik. Asalkan ethernetnya Gigabit, rasanya kecil kemungkinan bottleneck. Dengan bantuan Java dan VNC, kita bisa mengendalikan mesin virtual secara remote. Agar lebih cepat, saya menggunakan fitur Remote Desktop di Windows.

Dari segi keamanan, keuntungan virtualisasi adalah : jika salah satu mesin virtual diserang daleman sistem operasinya, serangan itu tidak akan merembet ke mesin virtual lainnya. Dan kondisinya bisa dikembalikan dengan snapshot backup.

Proxmox atau virtualization apa pun rasanya bakal menyenangkan dengan Prosesor Xeon yang bagus, harddisk 2 atau 3 TB (untuk backup) dan RAM sekitar 16GB(biar bisa bikin banyak). Mau bikin apa aja ayo mah.πŸ˜€

NB : Merakit rak server dari awal adalah pekerjaan yang benar-benar melelahkan. Saya butuh 2 hari, dikerjakan berdua.

reblog dari : http://blog.pdft.net/2014/02/uji-coba-proxmox-sebagai-wadah-untuk-aplikasi-eplaq-eqvet/

Catatan Ngoprek dari Rumah Sakit

Jadi ceritanya, saya ditelpon Pak Kun, server yang setahun lalu saya pasangi CentOS 5.8 mulai macet. Muncul pesan galat saat membuka terminal baru, ‘There was an error creating the child process for this terminal’ yang berbuntut panjang; tidak bisa ssh, scp dan lainnya. Akar masalahnya karena /dev/pts tidak bisa di-mount dengan benar. Tapi anehnya, masalah tersebut hilang setelah saya mengomentari baris /dev/pts di fstab. Mungkin langkah mount sudah dimasukkan ke dalam proses booting di luar fstab. Masalah usai. Tapi tetap saja, Pak Kun dan Pak Maman minta pasang ulang.

Saya bawa DVD CentOS 5.8 yang sama dengan tahun lalu, setelah database dibackup (dengan susah payah) ke server cadangan lain, saya memasang ulang. Setelah kitar 2 jam ngalor ngidul sambil nungguin proses update ke 5.10 (Cepul datang juga sebentar terus ngilang), saya menyesal tidak membackup berkas-berkas konfigurasi penting, terutama konfigurasi BIND yang njelimet (itu sebabnya saya catat di sini).

Panduan garis besarnya, saya bergantung pada catatan di http://server-world.info/en/, sangat membantu.

Partisi

Dulu partisinya hanya satu. Sekarang dipisah, root dan var (partisi lebih besar, berkas aplikasi web dan database berada di bawah /var), ah, dan sedikit SWAP.

MySQL dan PHPMyAdmin

Karena CentOS 5.8 sudah termasuk jadul dan versi PHP-nya juga jadul, mau tidak mau PHPMyAdmin-nya (programmernya bergantung pada front-end ini) juga jadul, semaksimal yang bisa saya pasang yaitu versi 2.11.

Apache dan PHP

Masalah kedua muncul pada opsi register global. Jika anda yakin sudah menambahkan parameter register_globals on di berkas php.ini namun tidak berpengaruh apa pun , silakan letakkan baris di bawah ini di berkas httpd.conf :

php_flag register_globals on

Btw secara keamanan, mengaktifkan register_globals tidak disarankan. Tapi kalau aplikasinya sudah jadi dan bergantung pada itu, apa boleh buat. Fitur ini sudah dihapus di PHP sejak versi 5.4.

Setelan waktu

Saya bergantung pada layanan NTP dari LIPI, tinggal masukkan parameter ntp.kim.lipi.go.id di berkas /etc/ntpd.conf. Masalah waktu ini terlambat diurus alias lupa, sehingga menyebabkan data yang di-entry selama hampir dua hari jadi acak kadul dan merepotkan (maaf pak kun, ahem).

DNS

Agar petugas rumah sakit bisa langsung mengakses aplikasi dari domain, BIND diperlukan. Saya mengikuti panduan dari sini , penjelasannya begitu terang dan paling mudah dari panduan manapun yang pernah saya temukan di internet.

Firewall

DNS bekerja sempurna dari server itu sendiri, tapi tidak bisa digunakan oleh komputer lain dalam satu jaringan, maka anda perlu membukakan pintu firewall untuk port 53.

Aktifkan semua service yang diperlukan saat boot dengan

/sbin/chkconfig namaservice on

dan tambahkan parameter

onboot=yes

di berkas konfigurasi ethernet (/etc/sysconfig/network-scripts/)untuk ethernet kedua dan seterusnya, jika mau diakfitkan juga.

Selesai.

Ruangan SIRS

reblog dari http://blog.pdft.net/2013/12/catatan-ngoprek-dari-rsu-prov-ntb/

Migrasi GNU/Linux, antara masalah teknis dan hasrat aktivis

Ketika saya dihubungi Pak Olan perihal migrasi sistem operasi di sebuah cabang perusahaan BUMN, hati saya berbunga-bunga. Sejak migrasi NTB Go Opensource beberapa tahun yang lalu (yang konon katanya tidak begitu berhasil), saya menginginkan sekali komunitas terjun langsung ke proses migrasi dan menjadi helpdesk, selain membantu secara langsung juga menambah pengetahuan dan pengalaman. Keinginan ini tidak tercapai, KPLI NTB hanya berkontribusi sebatas pada acara pelatihan. Pengalaman langsung proses migrasi tersebut akhirnya saya dapatkan sekarang, meskipun prosesnya terkesan mendadak dan tidak terencana. Saya dan Cepul berjuang selama lebih dari 2 minggu dengan 13 unit PC untuk menyelesaikan pekerjaan ini. Sejujurnya, kami kewalahan karena :

  1. Tidak ada survei terlebih dahulu / informasi lengkap mengenai bagaimana kondisi infrastruktur IT di cabang perusahaan tersebut.
  2. Tidak ada media percobaan untuk aplikasi/program khusus yang digunakan oleh perusahaan tersebut sebelum diimplementasikan langsung.
  3. Waktu yang sangat terbatas dan tuntutan kejar tayang.

Pada kenyataannya, cabang perusahaan tersebut sebenarnya sudah bermigrasi sebelumnya namun karena dukungan IT internal yang kurang baik dan beberapa masalah teknis yang tidak kunjung diselesaikan, beberapa unit kembali balik menggunakan Microsoft Windows. Jadi yang saya lakukan sebenarnya bukanlah proses migrasi, melainkan meluruskan jalan yang melenceng. Entah mengapa, sebenarnya saya tidak begitu bersemangat dibandingkan ketika membantu proses migrasi di Pemda Prov NTB.

Saya tidak akan menjelaskan secara detail sesuatu yang berkaitan dengan privasi perusahaan. Berikut saya lampirkan hal-hal penting menyangkut proses migrasi tersebut.

Sistem Operasi

Sistem operasi yang direkomendasikan dari pusat perusahaan adalah Ubuntu 9.10, tapi kami bersikeras pada pendapat bahwa mempertahankan versi lawas untuk penggunaan Desktop adalah tidak keren. Banyak masalah bisa diselesaikan jika mengikuti perkembangan versi (misal tersedianya paket di PPA untuk rilis-rilis tertentu).

Jadi kami memutuskan untuk menggunakan Ubuntu 12.04 LTS, selain solid, dukungannya juga masih sangat panjang, yakni 2017. Panjang umur Precise! Masalah versi ini sebenarnya cukup memusingkan tatkala kami mesti menyambungkan file sharing PC Ubuntu 9.10 dengan PC Ubuntu 12.04. Versi Samba yang terpaut jauh ternyata tidak selalu akur.

Untuk desktop, kami menggunakan Gnome Classic (No Effect) atau MATE agar pengguna yang sudah familiar dengan versi 9.10 bisa beradaptasi dengan cepat.

Dosemu

Aplikasi khusus perusahaan tersebut (untungnya) berjalan di bawah DOS dan Dosemu berperan penting di sini. Lupakan WINE, kami membuat Dosemu menjadi default untuk berkas berekstensi *.EXE. Entah kami mesti jengkel atau salut dengan programmer-nya yang old-styled.

Encoding CP-437

CP-437 adalah encoding yang umum digunakan di program DOS/Windows 3.1, set karakter asli dari IBM PC. Aplikasi khusus perusahaan tersebut menghasilkan berkas laporan dalam berkas berekstensi *.TXT dengan encoding CP-437. Berkas laporan tersebut berisi tabel-tabel rumit yang garisnya dibentuk oleh karakter-karakter khusus. Terpujilah masa lalu. Ini benar-benar membuat pusing. Satu-satunya (sejauh yang saya coba) aplikasi penyunting teks yang bisa membuka berkas encoding CP-437 dengan “sempurna” adalah sublime_text, sayangnya sublime_text tidak menyediakan fasilitas mencetak.

Solusi yang kami temukan adalah mengkonversi berkas tersebut ke UTF-8 dengan script kecil berikut :

#!/bin/bash
cd /home/user/path/to/files/

SAVEIF=$IFS
IFS=$(echo -en "\n\b")

for file in $(ls *TXT)
do
  name=${file%%.TXT}
  iconv -f CP437 -t UTF-8 $name.TXT > $name.print
  mv $name.print ~/Desktop/
done

Kemudian membiarkan Gedit melakukan sisanya.πŸ™‚

Jika pada Ms. Windows, font yang cocok untuk printer dotmatrix dan tabel dalam CP-437 adalah Courier New, maka di GNU/Linux, Freemono adalah yang paling cocok dan mirip.

Printer

Berikut daftar printer yang digunakan :

  1. LQ2180 (didukung langsung)
  2. LX300 (didukung langsung)
  3. Canon iP1980 (paket proprietary)
  4. Canon MP250 dan sebangsanya (paket proprietary)
  5. Epson Tx121 (paket proprietary)
  6. HP Deskjet Ink Advantage – lupa type (didukung langsung)

Dari keseluruhan printer Inkjet, saya sangat merekomendasikan printer merek HP. Bukan ngiklan, tapi semua fitur penggerak printernya memang sangat lengkap dan juga bebas, dan yang paling memudahkan, sudah tersedia langsung di setiap distribusi populer. Berbeda dengan penggerak proprietary Canon, yang mesti diunduh terpisah dan fiturnya lebih lengkap di versi Ms. Windows.

Bahkan setelah migrasinya selesai satu persatu, kami masih kewalahan menerima panggilan telepon dan bolak-balik sana-sini untuk menangani langsung masalah yang tersisa. Untungnya sekarang sudah selesai dan kami menerima sejumlah dana yang dibayarkan, disisihkan sebagai upeti untuk Kekaisaran Kaipang.πŸ˜€

Reblog dari blog penulis : http://blog.pdft.net/2013/11/migrasi-gnulinux-antara-masalah-teknis-dan-hasrat-aktivis/



Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

%d blogger menyukai ini: