Peran Kaipang dalam Migrasi PemProv NTB

Seperti yang telah disebutkan di atas bahwasanya Kementerian Riset dan Teknologi bersama-sama dengan seluruh stakeholder IT dan dalam kesempatan pelaksanaan kegiatan model migrasi OSS di 15 titik Provinsi/kota/kabupaten (di jadwalkan Bulan Agustus 2010 sampai dengan November 2010) RISTEK bekerjasama dengan Makara UI yang didukung oleh PT. Ardelindo Aples, POSS UI, NF dan Komunitas OSS Lokal.

nama saya, piko, saya mau menyuarakan hati saya lewat blog kpli ntb ini, dst… entah tulisan ini tujukan kepada siapa, saya cuma mau curhat sejenak.

sejak agustus dulu, koar-koar tentang migrasi perangkat lunak terbuka di lingkungan pemerintah provinsi NTB sempat membuat saya bersemangat. akhirnya, migrasi itu dilaksanakan tanggal 4-9 oktober 2010 yang mana isinya adalah tidak sesuai dengan apa yang saya perkirakan.

saya mengira demikian : ada tim migrasi dan kaipang diikutkan di dalamnya, termasuk di dalamnya bekerja di lapangan, berhadapan langsung dengan komputer milik pemerintah, bukan saja memigrasikan orang-orangnya (pelatihan PNS).

ternyata oh ternyata, peran kami di sini tidak seindah itu. kaipang hanya mendampingi pelatihan. terus terang saya kecewa.

ternyata, sudah ada tim migrasi tersendiri dan progressnya sudah berjalan 30-40 persen di kantor-kantor dinas dan itu sudah berjalan berbulan-bulan yang lalu (bahkan kaipang pun tidak diberitahu! serasa kami anak tiri di rumah sendiri). PDE NTB, mereka cerita betapa sulitnya proses migrasi itu. sebagian besar komputer yang dimigrasikan diinstall dualboot dengan windows, kalimat sebenarnya, “sangat sedikit yang diinstall linux thok, single boot.”.

wah, kapan migrasinya kalo masih dualboot dengan windows? saya berani bilang, kalau migrasi masih dualboot, NTB go open source sama saja boong, buang-buang uang rakyat.

seseorang dari PDE memberikan alasan yang masih sulit saya terima : cuma sedikit yang single boot, karena orang-orang butuh beradaptasi dulu. NTB go open source kan masih lama, 2013.

bantahannya kurang nonjok, bukankah PNS hanya perlu belajar sedikit lagi tentang sistem operasi ini dan makara UI beserta kaipang sudah memberikan pelatihan yang membosankan dan kami lelah selama 5 hari? dan bukankah dulu mereka bilang, nantinya hanya komputer tertentu (semisal program lokal khusus yang hanya berjalan di windows) yang dipasangkan dualboot? lain kata lain tindak. saya berani bertaruh, kalau dualboot, PNS akan lebih memilih booting ke windows ketimbang linux. migrasi jalan di tempat.

2013, pandai pula mengulur waktu. saya kira, kalau memang mau migrasi, ya memang harus sedikit memaksa. kalo ndak ya habis perkara, kita orang indonesia.

peran kaipang terbatas cuma di sini saja, sebagai pendamping di pelatihan PNS-nya, padahal kan kita juga punya semangat open source yang sama, bahkan semangat kami lebih besar!

16 Responses to “Peran Kaipang dalam Migrasi PemProv NTB”


  1. 1 amrinz Oktober 13, 2010 pukul 12:57 pm

    Memang baik sekali jika seandainya komunitas dilibatkan lebih mendalam. Tetapi dalam kasus di atas, saya lebih melihatnya sebagai sebuah proyek. Dan sebagaimana sebuah proyek, ada uang yang terlibat didalamnya, apalagi jika dalam jumlah besar. Siapapun, termasuk Tim migrasi Pemprov pasti tidak mau melewatkan kesempatan ini.

    Atas nama uang apapun bisa dikerjakan, termasuk membuat komunitas baru, meskipun tidak mendapatkan legitimasi dari komunitas lainnya.

    Buat piko dan rekan-rekan, kita enjoy saja. Apapun, kita tidak memerlukan siapa-siapa. kita pakai linux dan bekerja untuk linux bukan karena orang lain, tetapi karena CINTA!

    Jika ada proyek, ayo kita bekerja. Jika tidak ada, ya …. kembali ke laptop!

  2. 2 black_claw Oktober 16, 2010 pukul 5:47 pm

    demikianlah sabda ketupang.

    Eh tapi migrasi di sumbawa asik zig, kaipang benar-benar dipake!
    Apa piko mau kalau tiba2 butuh untuk dilempar kemari?

  3. 3 piko Oktober 16, 2010 pukul 6:00 pm

    dengan senang hati dan semangat, jika transport+makan dibiayai organisasi.
    *serius mode : on

  4. 4 princeofgiri Oktober 16, 2010 pukul 7:07 pm

    Begitulah PNS. Mayoritas, mereka masuk PNS karena malas untuk kreatif. Berharap masa tua dihabiskan dengan dibiayai negara (pensiun).
    Setahun lalu saya ikut bantu-bantu migrasi di Aceh Tengah. Untungnya terjadi hubungan baik antara Top Level Management dengan Komunitas. Jadinya kerjanya bisa bareng dan tidak serasa anak tiri.
    Tapi kalo menilik birokrasi, hal seperti di atas saya rasakan sih udah umum. Takut orang komunitas tau ada anggaran migrasi yang bocor atau apa gitu.

    Hehehe

  5. 6 amrinz Oktober 17, 2010 pukul 8:01 pm

    @piko: sesuai dengan pembicaraan yang saya ikuti, di sela-sela mencicipi singang, nanti akan ada ongkos PP dan penginapan (di rumah Yan). jadi piko siap2 aja ijin ama bosnya dan menapak tilasi langkah-langkah saya di bumi samawa sana he he he.

  6. 7 Cingicanga Oktober 19, 2010 pukul 2:56 am

    Pemda sumbawa Akan menyiapkan akomodasi Dan biaya transportasi Asal piko siap bantu2 maintenance server yang 5 biji ini.

  7. 8 piko Oktober 19, 2010 pukul 10:23 am

    berapa lama? seminggu kah?

  8. 9 Black_Claw Oktober 19, 2010 pukul 4:14 pm

    selama dibutuhkan. Tenang, kamu pasti mau kok. Karna, kalau kamu tidak mau, AKAN SAYA PATAHKAN TUBUHMU BERSAMA DSLRMU

  9. 10 kplintb Oktober 20, 2010 pukul 12:28 pm

    @blek: Awas, bisa jadi bukti kekerasan terhadap anak!!!

  10. 11 Furkan Oktober 20, 2010 pukul 3:20 pm

    wah benar2 sabda ketupang… sangat memikat(lelaki)

  11. 12 roim Oktober 20, 2010 pukul 3:43 pm

    Soal keterlibatan teman-teman KPLI NTB pada kegiatan penggunaan FOSS di lingkungan pemerintahan daerah NTB sangat dibutuhkan peran sertanya.

    Ada beberapa manfaat, jika peran KPLI NTB dominan:
    1. Mengoptimalkan sumber daya manusia terdekat
    2. Memberikan pengalaman/pengetahuan baru bagi KPLI NTB
    3. Meningkatkan kapasitas / kemampuan KPLI NTB
    4. Memperkecil biaya operasional
    5. Menyiapkan daya dukung jangka panjang.

    Dengan manfaat tersebut, sebaiknya dibicarakan dengan kontak person di Ristek, Pemeriintah Daerah, Pelaksana kegiatan. Mengenai peran serta rekan-rekan KPLI NTB.

    Mengenai respon pengguna baru linux di lingkungan pemerintahan yang malas, menurut saya ini adalah tantangan yang dihadapi. Sebetulnya tidak hanya pemerintahan, pada kelompok lain juga demikian (lsm, pendidikan, swasta). Pada intinya mereka sudah terbiasa dengan software yang sudah lama mereka gunakan. Merubah kebiasaan membutuhkan energi, usaha, kemauan dan waktu.

    roim

  12. 13 sufehmi Oktober 20, 2010 pukul 7:31 pm

    Anda tidak sendirian mas – di berbagai tempat, banyak reaksi yang seragam. Emoh migrasi total🙂 rata-rata setengah hati.

    Solusinya perlu melalui beberapa trik. Dan, setiap tempat butuh trik yang berbeda lagi.
    Misal :

    (1) Instruksi dari top management

    (2) Pendekatan berdasarkan kepentingan pengguna.
    Contoh :

    [a] Enak bisa kerja dengan tenang, bebas virus
    [b] Bebas dari razia
    [c] dst

    (3) dst

    Nah, coba lihat mas situasi disana. Lalu, kira2 trik apa yang bisa dilakukan.

    Karena Anda yang berada disana, maka Anda yang paling mungkin untuk memahami situasi selengkapnya – dan, menemukan potensi2 solusinya.

    Banyak sabar, dan maju terus !😀
    (dikirim dari Kendari, Sulawesi Tenggara)

  13. 14 Black[9] November 1, 2010 pukul 9:46 pm

    Sungguh terlalu kata bang aji rhoma…..hehehe

    Btw salam kenal semuanya, Dalam benak saya mungkin sama seperti kaipang (tim lokal lah yang harus banyak berperan)
    dalam hal ini Mungkin KPLI NTB harus membuat sebuah formula tuk Migrasi OSS sehingga pemda di NTB tidak perlu menghamburkan resource (ngapain cari yang mahal kalo ada KPLI NTB).
    BTW Sumbawa Barat juga lagi mempersiapkan migrasi insya allah 2011 nanti, Mohon Bimbingannya dari para Master.

    Salam…damai

  14. 15 M.Rubiyannor Oktober 4, 2011 pukul 3:51 pm

    Terima kasih mas, atas tulisannya, saya jadi mempunyai pengalaman dan pengetahuan yang baru untuk migrasi ke open source…

    Perkenalkan, Saya Rubi, ketua Unlam Linux Club (Kalimantan Selatan), kami juga akan mengadakan migrasi di Pemko Banjarbaru, Kalimantan Selatan, dari pengalaman mas ceritakan, saya paham dan mengerti sulitnya untuk migrasi total, oleh karena itu tulisan mas sangat berguna bagi saya dan teman2 di ULC utk tidak terjadi seperti di NTB, saya berharap migrasi yang kami lakukan ini berjlan sukses, rencananya awal november 2011 sudah mulai pelatihan…

    jika ada saran untuk kami terkait migrasi dapat dikirim ke kyiera.aoi@gmail.com

    Terima kasih
    Salam Open Source

  15. 16 piko Oktober 5, 2011 pukul 10:02 am

    saya rasa masalah komputerisasi setelah migrasi perlu dimasukan ke dalam disiplin. di sini, sebagian PNS sudah mengembalikan komputer2 mereka kembali menggunakan windows. jadi, perlu disanksi jika ada yang melakukan hal tersebut. kalau tidak, dijamin sedikit demi sedikit semua bakal balik.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s





%d blogger menyukai ini: