Kaipang Goes ILC 2012 Malang

Sebenarnya tema perjalanan Kaipang Goes ILC kali ini adalah “Pecalang”, karena Blek tidak henti-hentinya membicarakan itu, dari sejak kejadian hingga kami pulang sampai saya bosan dengarnya.Karena perjalanan menuju ILC ini sangatlah panjang dan melelahkan, barangkali saya lebih banyak menulis tentang perjalanannya ketimbang ILC itu sendiri.

Pertama-tama kami ucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Bapak Ramiaji Lamsari, atas bantuannya, akhirnya kami bisa menekan biaya dan berangkat bertiga menggunakan 2 buah sepeda motor bebek.

Berangkat

Dengan asumsi, KPLI Meeting tanggal 15-16 September 2012 dan perjalanan sepeda motor sekitar hari, kami berangkat dari Mataram pada hari Kamis tanggal 13. Setelah gagal membujuk Ketupang untuk ikut, kami memutuskan perjalanan berangkat ini mesti sehemat-hematnya, tidak ada itu yang namanya penginapan, tidak ada nasi, tidak ada daging. Jadi kami beli sekardus Mie Instan Indomie Goreng dan akan masak di tempat dimana kami lapar (Ya, kami bawa seperangkat alat masak sendok garpu piring). Meskipun pada awalnya sempat balik lagi karena celana dalam ketinggalan, kami tiba di Lembar, siap melaut ke Bali.

Btw, di kapal sempat nyeduh Indomie pakai air panas seadanya, sebut saja makan mie setengah mentah setengah matang. Emang sejak kapan di atas kapal boleh bikin api unggun? Plus dapat beberapa bungkus cokelat dari orang tak dikenal yang kasihan pada kami.

Dari pelabuhan laut Padangbai, gantian saya yang dipaksa mengendarai sepeda motor sampai mendekati Denpasar, cukup untuk membuat keputusan bahwa mungkin saya tidak akan membeli sepeda motor.

Sampai di Bali, keputusan paling sulit adalah, dimanakah kita bermalam? Atau dimanakah kita membuat api untuk masak? Atau kadang-kadang, dimanakah kita pipis? Setelah muter-muter sebentar, kami putuskan untuk rehat di Pantai Kuta, lewat tengah malam kala itu. Kami gelar peralatan masak dan cari-cari kayu bakar di pantai yang bersih itu, dan disinilah saya diinterogasi oleh apa yang disebut blek sebagai Pecalang.

Pantai Kuta tengah malam, TKP Tragedi Pecalang

Pada awalnya Blek mendekati bangunan hotel dan minta izin pada petugas keamanan untuk cuci gelas buat nyeduh kopi, passed. Giliran saya cuci panci piring, saya menjatuhkan panci karena gugup diliatin sama anjing. Suara panci jatuh itu konstan menarik perhatian beberapa orang di sana, mana tengah malam pula, semua rata-rata memakai seragam keamanan. Ketika saya tanya, “Pak, boleh saya cuci panci dan piring sebentar?”. Seseorang bilang boleh, tapi kemudian yang lain bertanya balik, “Buat apa cuci panci?”
“Buat masak.” Saya bilang, dan mulailah saya ditanya macam-macam, terutama “Mana KTP kamu?”
Sebenarnya saya mau jawab pertanyaannya, tapi terlalu banyak pertanyaan, terlalu banyak orang, dan saya jadi gugup tak ketulungan. Jadi saya menyingkir balik, tapi diikuti semua orang. Hasilnya, Blek dan Cepul ikut diinterogasi. Dan untuk konfirmasi, tentu saja saya punya KTP, saya ini WNI yang sah.

Kesimpulannya, di Pantai Kuta tidak boleh masak/membuat api, kami mesti pulang ke Mataram, atau paling tidak menyingkir dari sini. Yoi, setelah minta izin cuci piring sekali lagi (dan dikasih izin), kami menyingkir dari pantai kuta.

Awalnya saya sempat tersinggung. Okelah kita tidak jadi bikin api di pantai, tapi kok tetep diusir. Kok bule masih boleh mondar-mandir di pantai. Tapi lama-lama ngerti juga. Bali sudah pernah dibom 2 kali oleh orang dari bangsa sendiri. Entah atas dasar rasis atau paranoid, keknya sudah sepatutnya ada pencegahan. Demikian kata Blek.

Selanjutnya, saya diolokin terus perihal Pecalang ini. Tapi sumpah saya bukan teroris.

Ngopi yok ngopi

Kami lanjut jalan cari hotel kawannya Blek buat numpang nginap, tapi sudah tutup. Untungnya ada Pedagang Nasi Goreng yang mau tutup dan boleh dimintain air panas buat seduh kopi. Setelah liatin bule mabuk melintasi jalan lalu tidur glengseran di emperan toko (yang kemudian hilang entah kemana), kami lanjut kencangin gas sepeda motor sampai pagi.

Pagi sudah tiba, mata terkantuk-kantuk, badan sudah lemas, Blek tiba-tiba membelokkan motor, masuk ke Pos Polisi dan minta izin untuk istirahat di pos tersebut. Setelah periksa KTP dan isi tas/ransel, kami diizinkan istirahat di pos polisi tersebut (selanjutnya pos polisi adalah andalan kami untuk tempat istirahat meluruskan kaki). Kami istirahat hanya 3 jam. Jam 9 siap-siap berangkat lagi, jam 10 meluncur menuju Gilimanuk.

Pos Polisi tempat kami istirahat. Makasi Bapak Polisi!

Di pantai Soka-lah untuk pertama kalinya kami bisa bikin api unggun buat masak. Meski awalnya disuruh pindah lokasi karena asapnya bakal mengganggu rumah warga, kami berhasil bikin api unggun dan masak air. Mie Goreng siang itu memang nikmat, mie goreng pertama yang benar-benar dimasak sampai mendidih, juga kopi panas plus udara pantai yang bikin wajah kami berminyak.

Pantai Soka

Waktu makan telah tiba! (yahoo)

Kami tiba di Gilimanuk pada petang hari. Naik kapal sekitar 20 menit, dan makan malam di sekitaran Pelabuhan Ketapang. Karena sejak awal tidak ada alokasi dana untuk penginapan, lagi-lagi keputusan sulit. Lanjut jalan atau tidak? Kalau lanjut, ngantuk gag? Kalau istirahat, istirahatnya dimana?

Akhirnya kami putuskan lanjut jalan. Tangan saya terpaksa diiket di perut Blek, supaya saya tidak jatuh kalau ketiduran. Kami lewati hutan pohon jati di daerah Banyuwangi, yang kata orang banyak dedemitnya. Ah, peduli amat tapi ponselnya Blek jatuh di sana. Karena menurut Blek, nomor kontak di ponsel tersebut sangat penting, kami mesti balik kembali lagi puluhan kilometer menyusuri jalan, mencari-cari ponsel yang entah sudah berkeping2 dilindes truk, dikantongi orang, atau sembunyi di semak-semak. Ponselnya tidak ditemukan. Saya dan Cepul lihat meteor yang pancaran cahayanya panjang dan besar, macam kamekameha. Tumben saya lihat meteor macam itu, mungkin secara hutan jati Banyuwangi sangat2 bebas polusi cahaya, milkyway saja terlihat jelas.

Nginap di bale-bale/berugak SPBU (ninja)

Di daerah Situbondo, kami menemukan SPBU yang berugak/bale-bale-nya bisa ditempati untuk istirahat (selanjutnya SPBU adalah andalan kami untuk tempat menginap). Paginya berangkat lagi, melewati daerah yang beraroma tebu. Secara tidak sengaja menemukan pantai yang sepi, cocok buat tempat bikin api untuk masak. Dan beruntung sekali kami, di sana juga ada pipa air yang mencuat ke atas dan mengalirkan air jernih terus menerus. Setelah berdebat apakah itu air PAM atau air sumur bor, kami masak mie goreng matang kami yang kedua, plus daun bawang yang banyak sekali (tapi sebenarnya enak) dan entah sayuran apa lagi itu yang dimasukin sama Blek yang bikin nafsu makan merosot. Mie Goreng ludes, kopi ludes, ubi ungu juga ludes.

Penyelamat kami : air PAM atau sumur bor?

Kami berangkat lagi menuju Pasuruan, kemudian belok ke arah Malang. Dan tibalah kami di Malang.

Malang

Kami tiba di Malang pada sore hari. Terima kasih kepada Wilhi, atas tumpangan nitip tas, plus masak dan cuci jemur baju. Selagi semua barang dititip aman, kami menginap di warnet 24 jam yang koneksinya lambat banget, pesan paket sampai pagi.

Acara hari sabtu tanggal 15 adalah Seminar nasional oleh Onno W Purbo dan Pak Rus. Saya sih kurang dengar apa yang diomongin (kalau tidak salah Media Center dengan Raspberry Pi dan OpenBTS, tapi kami dapat buku terjemahan WNDW edisi kedua yang salah satu pengalih bahasanya, pak Onno sendiri). Saya sih cuma nunggu sesi foto-foto bareng beliau berdua. Kemudian dilanjutkan dengan seminar oleh Pak Rusmanto dari infolinux.

Kang Onno saat memberikan materi seminar

Oiya, kami bertemu dengan dedengkot lama Kaipang yang sekarang sudah pindah ke Jawa, yakni Pak Yudhan Cahyono, yang mana sebelumnya sempat meneror Panitia ILC2012 (ninja).

lama tak jumpa, pak Yudhan…

KPLI Meeting

Malam harinya, adalah KPLI Meeting, dibuka oleh perwakilan KPLI Malang sebagai penyelenggara, dipimpin mas Ihsan aka Saujiro sebagai moderator. Kemudian dilanjutkan dengan napak tilas Indonesia Linux Conference dari 2009 sampai 2011. Saat pemilihan kandidat penyelenggara ILC selanjutnya, yang menawarkan diri adalah KPLI Aceh, KPLI Sinjai dan Tegal dengan keputusan ILC tahun depan (2013) diadakan di Aceh.

Suasana KPLI Meeting

Cepul sedang menjelaskan “Apakah itu Kaipang?”

Blek on eksyen

Disalin dari laporan KPLI Semarang, berikut utusan KPLI/Komunitas yang hadir di ILC 2012 (secara saya sendiri gag denger).

“Hai… “

KPLI Aceh
KSL UIN Jogja
KPLI Jogja
KPLI Bojonegoro ( BOLUG )
KPLI Surabaya ( KLAS )
Blankon oleh Pak Aftian
Koelit
KPLI Tegal
KPLI Jombang
KPLI Bogor
KPLI Sinjai
KPLI Ujung Pandang ( LUGU )
KPLI Kediri
KPLI Paiton
KPLI Bandung ( KLUB ) oleh pak Nana Suryana
KPLI Semarang ( KLISSE ) oleh Muhammad Abdul Majid ( @kangmejid )
KPLI NTB ( Kaipang )
KPLI Madiun
KPLI Bekasi ( BELL )
KPLI Sulawesi Barat ( SULING )
KPLI Sidoarjo
KPLI Malang ( KOLAM )
Sahabat Blankon Semarang ( SBS ) oleh Richad Avianto ( @aviantorichad )
KPLI Kendari ( KLUX )
KPLI Palu
KSL Unram

Usulan yang tertuang pada KPLI Meeting :

Tugas utama tuan rumah ILC 2013 adalah mempersiapkan proposal maksimal 3 bulan setelah ILC 2012
Draft proposal dikirim ke setiap KPLI seluruh Indonesia
Meyelenggarakan ujian sertifikasi dalam rangkaian acara ILC
Keputusan KPLI Meeting ILC 2012 Malang

Dari meeting yang berlangsung dari pukul 16.30 sampai dengan pukul 00.30

Dan keputusan ILC 2012 adalah sebagai berikut :

Tuan rumah ILC 2013-2015 berturut-turut adalah Aceh, Sinjai, Tegal.
Membantu membentuk delegasi panitia ILC disetiap KPLI seluruh indonesia
Membentuk steering comite untuk membantu KPLI yang menjadi tuan tumah ILC
Melanjutkan keputusan ILC 2010 untuk membentuk kelompok Linux cewek
Mendokumentasikan kegiatan ILC termasuk nama dan asal setiap peserta ILC

Kemudian KPLI Meeting ditutup. Acara untuk hari minggu ditiadakan, melenceng dari jadwal semula. Kala itu saya berharap andai saja ada lebih banyak waktu untuk berbagi antar KPLI/komunitas.

foto bersama peserta KPLI Meeting

Narsis bersama Mantan Manajer Rilis BlankOn Pak Aftian dan Pimpinan Redaksi InfoLinux Pak Rusmanto

Narsis bersama Bapak Onno W Purbo. Makasi ya pak, bukunya tebal sekali!

JKT48

Pak Anjar! (rock)

Pertama-tama kami ucapkan terima kasih kepada Pak Anjar, Mbak Yenni, dan Mbak Mammi yang membantu kami dan terutama perihal celana. Lupakan ‘studi banding’ karena tidak cukup waktu (bayangkan kami hanya punya waktu 6 jam efektif selama di Jakarta, tentunya setelah dikurangi waktu tidur yang kebablasan).

Demi menuntaskan mimpi kawan kami yang sedang kena demam, si Cepul (yang mana lebih dahulu menodong Mak Risti perihal Official Guide JKT48), habis ILC kami berangkat ke Jakarta. Karena tiket kereta susah diburu, kami pakai jasa dadakan, numpang mobil orang. Dan tiket pulang dengan kereta dipesan lebih awal (tiket pulang ini pada akhirnya macam bom waktu, sungguh).

Adalah Pak Ahmad, yang menjadi rekan perjalanan kami ke Jakarta. Rencana awalnya, kami membayar masing 150k untuk menumpang di mobil Pak Ahmad. Pak Ahmad nyopir mobilnya keren banget, ngebut sana sini dan banyak manuver berbahaya, benar-benar menghemat waktu. Barangkali Pak Ahmad mantan preman di Malang, setiap ada halangan, he always passsed no matter what, hanya dengan lambaian tangan loh. Tapi begitu keluar dari Malang, kami ditahan polisi dan Pak Ahmad tak mampu mengelak, Kediri bukan daerah kekuasaannya. Mobilnya kurang surat kelengkapan dan surat pengantarnya tidak berlaku.

Andai mobil tersebut tidak ditilang dan tidak ada masalah, barangkali kami bakal punya waktu 2 hari di Jakarta. Kami beruntung, Pak Ahmad orang yang baik hati, mau bantu kami untuk coba undur tiket keretanya, kemudian nanti bertemu lagi di Jakarta.

Setelah rembuk dan debat sana sini, jadilah kami berangkat pakai Bis secara estafet. Satu orang lagi jadi rekan kami, yang juga sebelumnya ikut numpang mobil. Namanya Kang Ardi. Setelah sampai di Solo, kami berpisah. Kang Ardi ke Semarang, sementara kami diburu waktu, kami langsung ke Jakarta dan merelakan harga ke calo. Hi calo, damn you, but thank you.

Akhirnya dapat bis yang jalannya ngesot dan bau muntah. Lalu dapat kabar buruk dari Pak Ahmad bahwa tiket pulang tidak bisa diundur yang mana berarti kami benar-benar punya sedikit waktu di Jakarta. Eh, terus saya salah lompat turun bis di daerah Cempaka Putih. Kami kumpul lagi di Starbuck (Blek dan Cepul jalan kaki berkilo-kilo meter sebelum tiba, baju basah oleh keringat). Kopi mahal dan enak.

coffe bastards @Starbuck

Istirahat di Wisma ISE dan esoknya bangun kesiangan. Nah, kami sarapan Soto Betawi. Rasa oke, 1 porsinya sangat kelebihan buat perut saya.

Soto(y)!

Terus kami jalan-jalan ke FX, si Cepul pengen liat teater JKT48. Saya gag ingat persisnya disini ngapain saja, lagi migrain waktu itu.

Cepul @JKT48Theater

Terus kami dijemput Mbak Yenni, “Hai, lagi..”. Cepul dan saya nonton imax 3D Resident Evil : Retribution, 15 menit yang “wah” yang kemudian bikin saya frustasi kenapa di Mataram gag ada bioskop satu pun (paling enggak saya bisa nonton The Hobbit tepat waktu dan gag lagi nonton dari berkas bajakan). Pisah sama Mbak Yenni (Makasi!), saya dan Cepul ke Ragunan, sementara karena Blek anak yang berbakti, mampir ke rumah ibunya.

ngeluyur di Kebun Binatang Ragunan

Sudah sore waktu itu dan kami masuk Kebun binatang Ragunan secara ilegal (bayar uang gag jelas ke orang gag jelas). Sebagian besar binatang yang ingin kami lihat sudah dimasukin ke kandang dalam. Jepret-jepret sebentar, hari jadi petang. Seperti yang diceritakan orang-orang, di Jakarta tidak ada bintang, Matahari pun gag jelas bundarannya.

Habis itu malamnya kami ke Monas, ketemu Mbak Risti, “Hai, Mak…”. Cepul bahagia sekali malam itu, karena tangannya sudah menggenggam Official Guide JKT48. Terus jalan-jalan pakai kaki sambil ngobrol asik. Kemudian makan malam dengan murung (karena besok pulang) di Hokben. Terus balik ke Wisma ISE, istirahat.

ketemu Emak Risti @Monas

Pulang

Kami ketemuan lagi sama Pak Ahmad, seperti janji beliau. Setelah tiket di tangan, aman, kami mampir ke pasar senen buat buang waktu sampai kereta mau berangkat. Dan kampret bener, harga buku bekas di Pasar Senen murah banget. Duit buat pulang terbatas, jadi gag bisa beli banyak-banyak.

Mbak Risti mampir ke stasiun buat melepas kepulangan kami, “Makasi, Mak…”.

Nah, seperti apa yang saya baca dari tulisan Dahlan Iskan di koran, memang benar suasana kereta api sudah berubah. Empat tahun lalu waktu pertama kali saya naik kereta api Yogyakarta-Surabaya, keretanya benar-benar kumuh, sesak, banyak orang berdiri, bahkan tiduran di lantai koridor, dan calonya subur rimbun. Sekarang sudah lebih baik, peraturan satu orang satu kursi sudah cukup memberi perubahan.

Blek dan Cepul yang nelen antimo langsung terkapar, sementara saya tidur-tidur-ayam sambil baca komik yang saya beli di Pasar Senen. Btw, Blek sempat ngigau “Anjing!” bikin orang-orang pada noleh.

Kami sampai di Malang, ambil sepeda motor, dan setelah bilang terima kasih sama mantan panitia yang dititipi sepeda motor, kami cabut, pulang ke Mataram.

Di daerah Situbondo, kami istirahat malam di SPBU. Esok pagi berangkat lagi. Saat memasuki hutan jati di Banyuwangi, sudah malam. Kami motret-motret startrail bentar. Dan Blek pun bersumpah, “Kalo hape saya ketemu lagi nanti di sana, saya mau nembak cewek yang saya suka waktu SMA dulu”, yang mana kami amini dengan sangat. Tapi apalah daya, ponsel tersebut tidak ditemukan dan Blek pun tetap Jomblo.

Kami istirahat sebentar di pos penjaga hutan yang sangar tapi ramah. Motret startrail lagi. Ngobrol. Lalu lanjut jalan. Tiba di Pelabuhan Ketapang, kami makan siang sebentar (karena dana sudah bisa diperkirakan, kami berani makan di rumah makan, tetep sih, pesen yang paling murah).

Nah, setiba di Bali, saya dan Blek pisah sama Cepul, begitu turun dari kapal dia langsung hilang lenyap. Si Cepul katanya mau mampir entah kemana di Denpasar, sementara kami lewat jalur Utara. Kami sempat khawatir akan Cepul, barangkali dia ditangkap densus karena tidak punya katepe. Di jalur utara, udaranya lebih bersih, dan lebih banyak kesempatan melihat sawah berundak. Banyak spot foto landscape yang bagus dan saya menyesal tidak bawa lensa kit. Kami sempat mampir ke pantai Lovina, yang konon asal mula nama tersebut berasal dari Raja Buleleng pada masa lalu. Orang sekarang mengkaitkan Lovina dengan Love Indonesia. Ah, dimanapun tempat di Bali, saya sulit jadi suka, secara saya pobhia sama anjing.

Setiba di Pelabuhan Padangbai, kami beruntung dapat kapal yang sepertinya baru diimport. Serba baru, bahkan ada panggung musiknya. Dan tibalah kami di tanah kekuasaan Kaipang, pulau Lombok.

Bukan pergi dan pulang

Dengan demikian berakhir pula perjalanan ini dan sekali lagi Blek menginap di kamar saya yang kecil. Sementara Cepul selamat pula tiba di tanah kelahirannya. Tunggu kami, Aceh! (Entah bagaimana cara kami kesana nantinya).

bonus :

Niatnya Cepul yang sebenarnya bukanlah ILC, tetapi…

bahagia

7 Responses to “Kaipang Goes ILC 2012 Malang”


  1. 1 Black_Claw Oktober 3, 2012 pukul 11:07 pm

    Di satu sisi, memang terlihat bahagia…

  2. 3 Kuncoro Oktober 4, 2012 pukul 12:21 am

    salut dah atas perjuangan teman2 yang cukup gigih dalam mensukseskan acara ILC.

  3. 4 Black_Claw Oktober 5, 2012 pukul 4:32 am

    Di sisi lain motornya nggak lengkap.

  4. 5 Mamiq Oktober 5, 2012 pukul 2:05 pm

    Salut sama temen2. Athies tapi tetap punya semangat… Cinta segitiga, setia sampe tua

  5. 6 yudha Oktober 12, 2012 pukul 2:49 pm

    ternyata si cepul #modus

  6. 7 adiet_where Oktober 14, 2012 pukul 2:17 pm

    sepertinya judulnya tdk cocok,harusnya di ganti kaipang goes to jakarta and meet jkt48 hahaha


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s





%d blogger menyukai ini: