RDP/Terminal Server dari GNU/Linux ke Windows 8

Teman saya, si Smaug, punya 3 jiwa. Pertama Slackware 14.0, dipakai sehari-hari. Kedua, Mac OS X 10.6.8, entah bingung apa alasan masang si kucing ini, mungkin untuk menjaga mimpi, suatu hari bisa pegang Macbook lagi. Mac ini tidak pernah dipakai karena Radeon HD3200 tidak kompatibel dengan kext mana pun, QE CI tidak jalan. Dan terakhir Windows 7, untuk menjalankan beberapa aplikasi kantor, terutama aplikasi Fingerspot, Macro VBA Ms. Excell, dan aplikasi-aplikasi khusus Pemerintah.

Di kantor, satu tim divisi IT, berdua, hanya dibekali sebuah PC, spesifikasi kencang, corei3 3.4Ghz, RAM gede 8GB, diisi Windows 8 bajakan *anggaran kantor gag modal*. Tapi ya itu, mosok rebutan. Sementara saya masih enggak ngeh melihat Windows nongol di daftar LILO setiap saya menyalakan Smaug. Saya hanya membooting Windows jika ada kebutuhan kantor, dan sering bolak-balik restart untuk ganti sistem operasi. Nggak banget deh.

Satu lagi fakta, saya belum pernah benar-benar menghapus Windows di komputer pribadi lebih dari 6 bulan, meskipun saya sudah menggunakan GNU/Linux sebagai primary OS sejak 2008. Munafik yo.

Jadi, rencananya adalah, bagaimana caranya agar PC kantor yang keunceng banget ini bisa dipakai berdua, tanpa rebutan. Tentu saja yang terpikir pertama kali adalah konsep terminal server / ncomputing. Saya ingin menggunakan sumber daya PC kantor, berikut OS Windowsnya tanpa meninggalkan kenyamanan layar dan papan ketik laptop saya sendiri.

FYI, Microsoft mengupdate protokol RDP (Remote Desktop Assistance) untuk Windows 8, sehingga sebagian besar aplikasi RDP pihak ketiga saat ini belum bisa mengakses Windows 8 dengan baik. Jadi, kalau anda mau mencobanya dari GNU/Linux, untuk sementara lupakan rdesktop, freerdp, dan lainnya. Sampai saat tulisan in dipublish, dari semua utilitas protokol RDP yang saya coba, hanya Remmina yang bisa terkoneksi dengan Windows 8.

Konfigurasi RDP di Windows 8

Buat satu user lagi di Windows 8 untuk login Remote Desktop, jangan lupa untuk menggunakan password. User tanpa password tidak akan bekerja.. Buka Control Panel untuk mengenable Remote Desktop.

Centangkan “Allow remote connections to this computer”, centangkan opsi sekuriti di bawahnya, kemudian klik “Select User”

Klik “Add” untuk menambah user yang diizinkan mengakses Remote Desktop.

Sekarang, tinggal satu lagi, yaitu memodifikasi salah satu pustaka Windows untuk mengizinkan Remote Desktop bekerja seperti Terminal Server, user bisa login tanpa harus melogout user lain di komputer induk, dengan menggunakan patcher ini.

Perhatian : karena bertujuan memodifikasi pustaka bawaan Windows yaitu termsrv.dll, patch ini dikenal sebagai Malware oleh kebanyakan antivirus. Sejauh pengujian saya, patcher ini tidak melakukan apa pun selain yang dideskripsikan di thread tersebut. False positive. Jadi saya mengambil resiko mendisable antivirus selama 10 menit. Restart.

Remmina

Sekarang pasang Remmina, direkomendasikan memasang dari paket resmi masing-masing distribusi. Untuk Slackware, Remmina tersedia di Slackbuilds.org. Tambahkan koneksi baru di Remmina, masukkan IP Address milik Windows dan user kedua yang telah dibuat.

Coba koneksi, setelahnya akan ditanyakan password. Seharusnya sekarang ada desktop Metro di atas desktop GNU/Linux anda.🙂

Kinerjanya tidak terlalu mengecewakan. Dengan opsi kualitas remote tertinggi yang saya pilih, Remmina tidak terlalu banyak memakan RAM.

Jika melalui sambungan kabel LAN (bukan WAN atau Wifi AP, jalur bandwith yang tidak dibatasi antara client dan terminal server), tampilannya cukup rapi, tidak terlalu patah-patah, malah sering sama sekali tidak patah-patah. Ini lebih baik dari ncomputing kelas bawah beneran yang pernah saya coba. Yang paling menyenangkan, saya bisa memanfaatkan sumber daya PC kantor yang kencang ini.

Langkah terakhir, saya menghapus partisi Windows dan mulai bekerja di kantor menggunakan metode ini.🙂

Siapa Smaug?

*narsisduluah

4 Responses to “RDP/Terminal Server dari GNU/Linux ke Windows 8”


  1. 1 tedytirta April 17, 2013 pukul 7:46 am

    Kalau booting windowsnya hanya sekali-kali saja, mengapa tidak menempatkan Windows di dalam VirtualBox saja? Lumayan membantu tidak perlu restart-restart untuk sekadar mengakses aplikasi Windows.

  2. 3 Black_Claw April 17, 2013 pukul 5:37 pm

    Mungkin karena dua hal yang utama, yaitu berat kerjanya, dan mengurangi banyaknya windows bajakan yang digunakan. Yang kedua juga berarti menghemat spes.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s





%d blogger menyukai ini: