Inikah Cinta?

Direpos dari akun FB Farhan Perdana, satu-satunya utusan Kaipang untuk ILC 2013 Aceh.

Hari ini, di Aceh Timur, saat melintas gagah dengan diiringi Ashita E No Yuuki (yang dinyanyiin sendiri), saya berpapasan dengan dua cewek andereij random pake seragam SMA yang lagi dorong Honda Supra keluaran pertama di jalan yang panas sekitar hutan kelapa random. Kasihan, saya pikir. Maka saya balik dan tanya, ada apa, habis bensinkah atau bagaimana. “Mesin mati,” katanya. Maka saya suruh mereka geret ke tempat yang teduh, dan saya periksa.

Bensin ada, tapi distarter memang mati. Saya buka tutup busi dan saya cek apinya, nyala. Lepas kepala busi, cek kompresi, kompresi ada. Cek mangkok karbu, bensin ada. Saya pasang lagi busi, dan kick-starter, tapi tetap ga nyala. Maka saya lepas lagi busi, pasang di cup businya, dan tempelin ke bodi sambil megang cup busi. Saya suruh anak SMA itu starter.

Oh, api busi nggak ada. Tapi tiba-tiba ada perasaan sesuatu yang menjalar, merambat dari tangan saya yang memegang cup busi ke dada saya.
Sekejap saya berpikir, “Inikah cinta?”

Ternyata saya kesetrum.

Oke, jadi cup businya korslet. Saya pasang kembali busi, cup busi dilepas, dan kabel busi siaran langsung ke busi tanpa perantara cup busi, sambil ditanya-tanya sama mereka, “nggak bisa ngomong Aceh?”, “Dari mana?”, “Udah jalan berapa hari?” dan berbagai pertanyaan basa-basi-basong lainnya… Singkat cerita, kick-starter motor, nyala. Okelah, saya bilang ke mereka, “dik, cup busi kamu rusak. Beli yang baru, yang asli Honda. Paling 15 ribu.”

Mereka naik motornya dengan senang, dan sembari melambaikan tangan berkata “Terima kasih abaaang~!”

Fuck, you know, fuck. I feel like kembali ke masa-masa SMA, fuck.

Jadi untuk menyadarkan diri, saya nyalakan lagi rokok saya, nenggak air isi ulang pombensin (kran) dan melanjutkan perjalanan.

Sekitar 10-15 menit ke depan, pas masuk kampung samting itu, saya lupa apaan. Pokoknya ada anak kecil yang berdiri di pinggir jalan di bawah pohon. Anak itu ngeliat saya, lari masuk ke halaman rumahnya, dan keluar dengan lima atau enam orang, terus si anak nunjuk-nunjuk saya.

Nah, si bapak yang paling tua dari kerumunan itu melambaikan tangan nyuruh stop. Saya bingung, apa saya kabur saja? Salah apa saya? Setelah mengandalkan kemampuan analisa lapangan super-cepat yang saya dapat setelah Shocker merekonstruksi ulang tubuh saya, saya melihat ada dua RX-King yang parkir di halaman. Mau kabur juga percuma, dua kali ngurut gas, pasti ini RX-King bisa ngejar saya.

Jadi saya berhenti sajalah, kalau ada salah-salah, bukannya bisa dibicarakan secara kekeluargaan, bukankah begitu, saudara-saudara? Tapi si bapak (dan gerombolannya) ini nggak pengeng bicara. Mereka senyum-senyum gitu terus ngajak (maksa) saya masuk dulu. “Masuk, masuk saja dulu.” Itu saja ucapnya. Sekalinya ngomong panjang, pake bahasa Alien bernama Aceh yang Presiden aja ga ngerti, apalagi saya. Saya berpikir, apakah saya ini mau direkrut jadi anggota GAM atau gimana. Saya mencoba menenangkan diri dengan berpikir bahwa GAM lagi ga butuh orang ganteng.

Tapi gagal.

Jadi saya manut masuk saja. Sampai di dalam, sudah ada tikar dan nasi dan FUCK, KEPITING RAJUNGAN SEBASKOM. “Silahkan, silahkan makan.” katanya lagi dengan logat aceh yang kentalnya kalah-kalah oli topwan. “Eh, ada apaan emang, pak?” Saya nanya. Dia mikir sebentar, kemudian ngulang lagi silahkan-silahkan-makan-nya. Entah dia mikir saya ngomong apaan, atau dia bingung jelasin pake bahasa Indonesia yang saya mengerti.
Tapi bodohlah, saya sebenarnya lagi dilema. Ada dua dilema di kepala saya saat itu.

Pertama, saya lagi OCD 24jam (karena bokek)
Kedua, saya alergi dengan crustacea.

Jadi, coba, bisakah anda berikan satu alasan, kenapa saya harus menyantap kudapan yang bapak (dan gerombolannya) itu suguhkan…?

“KEPITING RAJUNGAN”

FAK OCD LAH!

Jadi saya embat saja sebaskom kepiting itu. Toh ada tablet CTM di bagasi motor saya, kalaupun tetap alergi, jus karbon dari arang juga ntar bisa diandalkan. Palingan ntar-ntar mencret.

Selagi saya makan, si bapak diskusi samtingentahapa sama gerombolannya, pake bahasa Alien Aceh itu. Saya sih sudah masa bodo. Setelah saya selesai makan, saya ditrimakasihin, terus diantar ke luar lagi. Saya mikir, ini bapak kesambet apa, yang dikasih makan saya, kok dia yang terima kasih? Tapi yah, saya jawab saja, “Sama-sama, pak.”

Terus dia bilang, “Yang mati mesin tadi anak saya. Tadi SMS.”

Tengkyu andereij SMA Random dan keluarga. I luv u poll. — in Lhokseumawe, Aceh.

1 Response to “Inikah Cinta?”



  1. 1 surgery esthetic Lacak balik pada Januari 26, 2015 pukul 5:35 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s





%d blogger menyukai ini: