Uji coba Proxmox sebagai wadah untuk Aplikasi Eplaq-Eqvet

Eplaq dan Eqvet adalah nama aplikasi pemerintah dari Barantan. Aplikasi tersebut berbasis Windows, bergantung pada database MySQL dan bisa dirancang sebagai lingkungan server-klien. Selama ini, di kantor dipasang sebagai standalone, tidak bergantung pada server manapun (padahal ada 2 mesin server nganggur).

Nah, tiba-tiba datang komputer server baru dari Pusat. Benar-benar server, sebuah IBM System X3650M4, lengkap beserta UPS APC 220VA dan rak server setinggi dada. Ini benar-benar mesin yang keren dan saya selalu jatuh cinta dengan desain IBM yang serba modular. Sebulan pertama saya sibuk baca dokumentasi dan merakitnya sebelum menyadari bahwa intruksi yang datang bersama barang ini membingungkan : hanya boleh digunakan untuk kepentingan Eplaq dan Eqvet. Eplaq dan Eqvet adalah dua aplikasi yang berbeda, meskipun secara teknis bisa digabung dalam satu sistem operasi, pengoperasian dan syarat teknisnya cukup merepotkan. Salah-salah update di satu aplikasi akan merusak aplikasi lain. Di lain hati, saya menginginkan setidaknya mesin itu dipasangi sistem Unix-like yang storage-nya digunakan untuk berbagi berkas (yang mana terbukti efisien di kantor saya yang lain). Jadi bagaimana?

Solusinya adalah virtualization. Dulu saya cuma ngangguk-ngangguk-gak-ngerti dengar virtualization-whatever. Baru sekarang saya mengerti apa dan bagaimana.

Proxmox VE (Virtualizatio Environment) adalah distribusi GNU/Linux berbasis Debian 64 bit, yang menyediakan lingkungan virtualisasi yang open source, berbasis KVM dan OpenVZ. Sederhananya begini : ingat VirtualBox? VMware? Nah, bedanya, Proxmox tidak meload GUI apa pun (yang berarti lebih hemat RAM), dibantu modul kernel untuk KVM, virtualisasinya hampir secepat aslinya. Proxmox VE dikendalikan dari antar muka web yang mudah dipelajari. Jadi dengan Intel Xeon E5-2609 2.4Ghz dan 4GB RAM DDR3, saya membaginya ke 3 mesin virtual : 2 mesin Windows untuk Eplaq Eqvet dan 1 mesin FreeNAS untuk berbagi pakai berkas. Saya yang terbiasa dengan VirtualBox, tidak menemukan banyak kesulitan dalam beradaptasi dengan Proxmox. Semua serba familiar, termasuk manajemen container. Mesin virtual yang sudah dibuat dapat diatur agar dinyalakan otomatis begitu Proxmox selesai diboot.

Bagaimana dengan ethernet? Ethernet fisiknya bisa di-bridging ke dalam sistem operasi virtual, jadi gak masalah. Benar-benar menarik. Asalkan ethernetnya Gigabit, rasanya kecil kemungkinan bottleneck. Dengan bantuan Java dan VNC, kita bisa mengendalikan mesin virtual secara remote. Agar lebih cepat, saya menggunakan fitur Remote Desktop di Windows.

Dari segi keamanan, keuntungan virtualisasi adalah : jika salah satu mesin virtual diserang daleman sistem operasinya, serangan itu tidak akan merembet ke mesin virtual lainnya. Dan kondisinya bisa dikembalikan dengan snapshot backup.

Proxmox atau virtualization apa pun rasanya bakal menyenangkan dengan Prosesor Xeon yang bagus, harddisk 2 atau 3 TB (untuk backup) dan RAM sekitar 16GB(biar bisa bikin banyak). Mau bikin apa aja ayo mah.😀

NB : Merakit rak server dari awal adalah pekerjaan yang benar-benar melelahkan. Saya butuh 2 hari, dikerjakan berdua.

reblog dari : http://blog.pdft.net/2014/02/uji-coba-proxmox-sebagai-wadah-untuk-aplikasi-eplaq-eqvet/

0 Responses to “Uji coba Proxmox sebagai wadah untuk Aplikasi Eplaq-Eqvet”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s





%d blogger menyukai ini: