Archive for the 'curhat' Category

Bagaimana Kaipang menuju ILC 2014 Sinjai?

Migrasi GNU/Linux, antara masalah teknis dan hasrat aktivis

Ketika saya dihubungi Pak Olan perihal migrasi sistem operasi di sebuah cabang perusahaan BUMN, hati saya berbunga-bunga. Sejak migrasi NTB Go Opensource beberapa tahun yang lalu (yang konon katanya tidak begitu berhasil), saya menginginkan sekali komunitas terjun langsung ke proses migrasi dan menjadi helpdesk, selain membantu secara langsung juga menambah pengetahuan dan pengalaman. Keinginan ini tidak tercapai, KPLI NTB hanya berkontribusi sebatas pada acara pelatihan. Pengalaman langsung proses migrasi tersebut akhirnya saya dapatkan sekarang, meskipun prosesnya terkesan mendadak dan tidak terencana. Saya dan Cepul berjuang selama lebih dari 2 minggu dengan 13 unit PC untuk menyelesaikan pekerjaan ini. Sejujurnya, kami kewalahan karena :

  1. Tidak ada survei terlebih dahulu / informasi lengkap mengenai bagaimana kondisi infrastruktur IT di cabang perusahaan tersebut.
  2. Tidak ada media percobaan untuk aplikasi/program khusus yang digunakan oleh perusahaan tersebut sebelum diimplementasikan langsung.
  3. Waktu yang sangat terbatas dan tuntutan kejar tayang.

Pada kenyataannya, cabang perusahaan tersebut sebenarnya sudah bermigrasi sebelumnya namun karena dukungan IT internal yang kurang baik dan beberapa masalah teknis yang tidak kunjung diselesaikan, beberapa unit kembali balik menggunakan Microsoft Windows. Jadi yang saya lakukan sebenarnya bukanlah proses migrasi, melainkan meluruskan jalan yang melenceng. Entah mengapa, sebenarnya saya tidak begitu bersemangat dibandingkan ketika membantu proses migrasi di Pemda Prov NTB.

Saya tidak akan menjelaskan secara detail sesuatu yang berkaitan dengan privasi perusahaan. Berikut saya lampirkan hal-hal penting menyangkut proses migrasi tersebut.

Sistem Operasi

Sistem operasi yang direkomendasikan dari pusat perusahaan adalah Ubuntu 9.10, tapi kami bersikeras pada pendapat bahwa mempertahankan versi lawas untuk penggunaan Desktop adalah tidak keren. Banyak masalah bisa diselesaikan jika mengikuti perkembangan versi (misal tersedianya paket di PPA untuk rilis-rilis tertentu).

Jadi kami memutuskan untuk menggunakan Ubuntu 12.04 LTS, selain solid, dukungannya juga masih sangat panjang, yakni 2017. Panjang umur Precise! Masalah versi ini sebenarnya cukup memusingkan tatkala kami mesti menyambungkan file sharing PC Ubuntu 9.10 dengan PC Ubuntu 12.04. Versi Samba yang terpaut jauh ternyata tidak selalu akur.

Untuk desktop, kami menggunakan Gnome Classic (No Effect) atau MATE agar pengguna yang sudah familiar dengan versi 9.10 bisa beradaptasi dengan cepat.

Dosemu

Aplikasi khusus perusahaan tersebut (untungnya) berjalan di bawah DOS dan Dosemu berperan penting di sini. Lupakan WINE, kami membuat Dosemu menjadi default untuk berkas berekstensi *.EXE. Entah kami mesti jengkel atau salut dengan programmer-nya yang old-styled.

Encoding CP-437

CP-437 adalah encoding yang umum digunakan di program DOS/Windows 3.1, set karakter asli dari IBM PC. Aplikasi khusus perusahaan tersebut menghasilkan berkas laporan dalam berkas berekstensi *.TXT dengan encoding CP-437. Berkas laporan tersebut berisi tabel-tabel rumit yang garisnya dibentuk oleh karakter-karakter khusus. Terpujilah masa lalu. Ini benar-benar membuat pusing. Satu-satunya (sejauh yang saya coba) aplikasi penyunting teks yang bisa membuka berkas encoding CP-437 dengan “sempurna” adalah sublime_text, sayangnya sublime_text tidak menyediakan fasilitas mencetak.

Solusi yang kami temukan adalah mengkonversi berkas tersebut ke UTF-8 dengan script kecil berikut :

#!/bin/bash
cd /home/user/path/to/files/

SAVEIF=$IFS
IFS=$(echo -en "\n\b")

for file in $(ls *TXT)
do
  name=${file%%.TXT}
  iconv -f CP437 -t UTF-8 $name.TXT > $name.print
  mv $name.print ~/Desktop/
done

Kemudian membiarkan Gedit melakukan sisanya. 🙂

Jika pada Ms. Windows, font yang cocok untuk printer dotmatrix dan tabel dalam CP-437 adalah Courier New, maka di GNU/Linux, Freemono adalah yang paling cocok dan mirip.

Printer

Berikut daftar printer yang digunakan :

  1. LQ2180 (didukung langsung)
  2. LX300 (didukung langsung)
  3. Canon iP1980 (paket proprietary)
  4. Canon MP250 dan sebangsanya (paket proprietary)
  5. Epson Tx121 (paket proprietary)
  6. HP Deskjet Ink Advantage – lupa type (didukung langsung)

Dari keseluruhan printer Inkjet, saya sangat merekomendasikan printer merek HP. Bukan ngiklan, tapi semua fitur penggerak printernya memang sangat lengkap dan juga bebas, dan yang paling memudahkan, sudah tersedia langsung di setiap distribusi populer. Berbeda dengan penggerak proprietary Canon, yang mesti diunduh terpisah dan fiturnya lebih lengkap di versi Ms. Windows.

Bahkan setelah migrasinya selesai satu persatu, kami masih kewalahan menerima panggilan telepon dan bolak-balik sana-sini untuk menangani langsung masalah yang tersisa. Untungnya sekarang sudah selesai dan kami menerima sejumlah dana yang dibayarkan, disisihkan sebagai upeti untuk Kekaisaran Kaipang. 😀

Reblog dari blog penulis : http://blog.pdft.net/2013/11/migrasi-gnulinux-antara-masalah-teknis-dan-hasrat-aktivis/

Kisah Mamiq, Monster, Dan Jomblo Yang Bukan Homo

Assalamu’alaikum wr.wb
Begini ceritanya. Beberapa bulan lalu anak saya secara tidak sengaja menumpahkan es kelapa di laptop mini saya. Saya segera membawa laptop itu ke service center. Mereka memberi tahu bahwa laptop itu tidak lagi bisa diselamatkan. Matilah laptop itu dengan mati sebenar-benarnya, bahkan data hard disknya pun tidak bisa dibaca. Hard disk itu tidak bisa diselamatkan. Yang masih bisa berfungsi adalah layarnya. Bahkan baterai pun, katanya tidak lagi bisa diselamatkan. Dengan penuh duka cita, akhirnya saya kemudian membeli laptop pengganti.

Beberapa minggu yang lalu, kawan kita, Piko, anak muda jomblo yang bukan homo, mantan ‘temen dekatnya’ Cepul meminta tolong untuk memanfaatkan layar laptop saya untuk mengganti layar laptop yang secara tidak sengaja dia duduki. Duh kawan, memang hati yang sedang berduka membuat kita tidak bisa konsentrasi. Saya kemudian membawakan dia bangkai laptop saya untuk dikanibal.

Beberapa hari yang lalu, Piko mengirim sms memberi kabar kalau layar laptop saya tidak kompatibel dengan laptopnya. Artinya dia harus mencari layar lain yang cocok. Katanya dia membeli layar itu Rp. 600ribu. Sorry, kawan. Di baris terakhir smsnya Piko memberi kabar gembira bahwa hard disk bangkai laptop saya itu bisa dibaca. Wah, saya senang sekali. Dengan bergegas saya ke tempat tinggal barunya Piko yaitu kantornya. Dan benar, ternyata hard disk saya bisa dibaca. Dan memorinya juga tidak apa-apa. Sebelum pulang Piko bilang kalau dia penasaran siapa tau laptop itu masih bisa diselamatkan. Sesampai di rumah, saya mencoba menghidupkan laptop itu. Tada, ternyata dia hidup! Dengan perasaan berbunga, malam-malam, eh pagi-pagi ding, saya ngasitau Piko kalo laptop itu bisa hidup!

Saya membawa kembali monster (sudah mati hidup lagi) laptop saya ke Piko. Dan tadi malam Piko memberitahu: “Laptopnya oke, Mik. Touchpad, sound, wifi, bluetooth, usb port oke. Minusnya beberapa tombol keyboard gak berfungsi, deretan bagian kanan.”

Alhamdulillah, akhirnya Piko menjadi penyelamat laptop saya. Blessing in disguise! Di dalam hati saya, saya berdoa, terima kasih kawan. Semoga kamu segera mendapatkan pengganti dia yang sudah pergi. Masih banyak orang yang siap menjadi kekasihmu. Relakan dia pergi, Ko!

Wassalamu’alaikum wr.wb

Seperti dikisahkan oleh Mamiq di halaman grup facebook KPLI NTB.

Preview Blankon Rote Beta

Semalam, karena penasaran ingin melihat seperti apa screenshot BlankOn Rote tetapi tidak menemukannya dimanapun walau sudah di googling, saya mendownload file ISO BlankOn Rote Jahitan I dari lumbung kambing.ui.ac.id.

Kenapa saya penasaran sekali dengan BlankOn Rote?
Karena ditengah “tsunami” perubahan desktop yang melanda distro-distro linux akhir-akhir ini saya merasa kehilangan GNOME2, meskipun ada alternatif desktop lainnya seperti XFCE atau LXDE yang mirip, tetap saja masih ada yang terasa “kurang”.
Saya berharap, BlankOn Rote bisa mengisi “kehilangan” saya.

Pertama kali mencobanya, saya menjalankannya di Oracle VirtualBox. Saya disambut menu pilihan apakah akan menggunakan LiveCD atau meng-install BlankOn ke Hardisk. Di sini saya juga diijinkan memilih bahasa, Timezone dan Keyboard. Kontradiksi dengan pilihan Bahasa dan Timezone yang banyak, pilihan untuk keyboard terasa kurang, hanya ada dua pilihan, US dan UK.

Sebelum Instalasi, saya memilih untuk mencobai LiveCD-nya dulu. LiveCD berjalan baik, disapa background biru dan panel atas yang gelap. Saya tidak tahu apakah ini tampilan default ataukah tampilan fallback, karena beberapa desktop sekarang menggunakan trend ini 🙂

Saat ingin mengganti background saya tidak bisa klik kanan di desktop seperti biasanya, harus melalui menu Settings > Backgrounds.

Panel di BlankOn Rote
Panel BlankOn Rote sepertinya mirip dengan Panel Cinnamon, tidak bisa di tambahkan applet di atasnya seperti panel GNOME2 langsung dengan klik kanan. Tetapi saya tidak menemukan ikon setting untuk panel seperti di Linuxmint 13 Cinnamon. Saya juga tidak menemukan setting Appearance di System Setting (GNOME Control Center).

Saya juga melihat ada “jejak” tooltips yang tertinggal, seperti screenshot ini.

Menu di BlankOn Rote
Menu di BlankOn Rote ini sangat unik, ketika kita klik tombol menu dengan logo BlankOn di kiri atas, menunya akan muncul disamping, menutupi 1/4 layar (1024×768) Virtualbox dari atas ke bawah. Ketika kita klik kategori menu, item-item menu akan muncul dibawahnya.

Beberapa item menu letaknya “salah” tidak seperti di LinuxMint, kategori System Tools diisi item-item yang seharusnya ada di Administration atau Preferences.

Ketika meng-klik menu Locations (Places) kolom menunya berubah, tidak lagi bergeser ke bawah seperti ketegori menu lainnya tapi membuat kolom menu tersendiri menggantikan kolom sebelumnya. Saya sempat kebingunan bagaimana kembali ke menu awal karena tidak ada petunjuk/ikon sama sekali. Saya mencoba meng-klik di atas menu tepat di atas ikon start menu (yang tidak terlihat karena teralingi menu Locations) barulah saya bisa kembali ke menu awal 🙂

Alangkah baiknya jika menu Locations ini menggunakan konsep yang sama seperti kategori menu lainnya, bergeser ke bawah.

Di bawah menu, ada tulisan Username dan placeholder yang digunakan untuk foto pengguna setelah mengaturnya melalui Settings > User Accounts.

Yang kurang mungkin tidak (belum) lengkapnya ikon-ikon untuk kategori menu dan item menu. Berkaitan dengan ikon juga, ada ikon yang cukup mengganggu, karena penggunaaan logo OS lain yang mungkin bisa memicu kontroversi.

Aplikasi Standar BlankOn Rote
Saya tidak tahu apakah rilis Beta ini mencerminkan rilis akhir, jika iya maka kita akan mendapatkan chromium browser, Pidgin Mesengger, LibreOffice Suit, Evolution Mail, Pemutar musik Audacious dan Totem untuk menonton Video.

Minimal dan lain dari kebiasaan distro-distro populer seperti Mint atau Ubuntu yang mengusung Firefox untuk browser, Empathy (Pidgin di Mint) untuk IM mesengger, Thunderbird (di Mint) untuk email, Rhythmbox (Banshee di Mint) untuk memutar musik atau Gnome-mplayer dan VLC (Mint) untuk memutar video.

Tentu saja anda bisa menambahkan aplikasi lainnya melalui repository kelak.

Setelah mencobanya di laptop menggunakan LiveCD USB, tidak ada perubahan sama sekali pada tampilan desktop (tidak ada fallback). Yang cukup mengganggu adalah brightness yang meredup sejak awal start dan restart yang tidak mulus.

Kesimpulan?
Saya tidak berani memberikan nilai dari skala 1-9 karena setiap distro memiliki preferensi sendiri-sendiri dan tidak ada standar baku untuk menilai tampilan sebuah desktop. Jadi saya serahkan kesimpulannya kepada anda, tentu setelah mencobanya sendiri.

Yang pasti, saya masih menggunakan Ubuntu 10.04 dengan desktop GNOME 2 dan masih mengharapkan proyek MATE/Cinnamon bisa stabil.

Kopdar Perjuangan, 03-04 Februari 2012

Bosan tentang kabar kopdar di Pulau Lombok? Bagaimana kalau sekali-sekali ada kopdar di pulau Sumbawa. Seperti yang diketahui umum, anggota kaipang di pulau Sumbawa rata-rata terpisah satu sama lain dengan jarak minimal 60 kilometer jalan darat. Yoi, anda tidak salah dengar. Minimal. Dan kalau anda masih menanyakan kondisi jalannya secara fisik seperti apa, anda pasti ga ikut ILC2011.

Jadi, untuk kopdar yang dihadiri empat orang saja, pak Olan harus bawa mobil (dulu motor, tapi sekarang udah beli Mobil, katanya sih buat dinas kaipang 😛 ) dari ujung paling timur propinsi NTB, Sape, untuk menjemput pak Ram di Cenggu, yang kemudian mengarah ke Dompu untuk menjemput saya, Blek, dan temu kangen dengan Ukang (yang ga bisa lanjut ikut kopdar karna kudu jaga kebun Cyber). Dari sana, keduanya saya sopiri ke Calabai, ujung utara pulau Sumbawa, untuk bertemu Teguh.

Agenda kopdar:
1. Dengerin lagu Iron Maiden dan AKB48 di sound system mobil baru pak Olan.
2. Motret.

Ha? Motret? Yoi. KPLI-NTB itu kepanjangannya Komunitas Photographer Laknat Indonesia – Nusa Tenggara Barat.

Oh ya, waktu yang diperlukan untuk kopdar ini adalah dua hari.

Ketupang Menulis : Cerita Tentang Aku, Kau, dan KPLI

Masalah lain yang juga membuat saya agak susah tidur adalah untuk apakah saya aktif di KPLI?

Agar jelas, saya mengulang kembali sejarah mengapa saya menerima ajakan kawan-kawan lainnya untuk membentuk KPLI. Alasan saya sederhana sekali, sekedar untuk berbagi. Maka saya membuat posting di linux.or.id, dan postingan ini agak lama baru mendapat respon yang saya harapkan, sementara itu, saya membeli domain linuxindo.web.id (tanpa tahu bahwa linuxindo.com ada dan merupakan perusahaan), saya benar-benar newbie dan ceroboh waktu itu.

Sekarang, sejak 2008, saya menjabat sebagai ketua KPLI NTB, yang semula niatnya adalah membentuk KPLI di Kota Mataram saja. Sekarang, bisa dikatakan saya agak “mapan” di KPLI. Saya mendapatkan dukungan dari anggota lain, yang juga sahabat-sahabat saya. Saya juga merasakan manisnya jalan-jalan ketika ada pelatihan, dan yah, bisa membeli hardisk 500Gb sepulangnya – Alhamdulillah!

Saya tidak bermasalah dengan hal-hal seperti ini, ini merupakan konsekuensi yang wajar.

Sekarang, ketika saya larut dalam KPLI, sibuk memikirkan kegiatan-kegiatan, rekrutment anggota, melayani tanya jawab, dan membolos kerja ketika dibutuhkan, main PW, nonton film, dua hal yang saya dapatkan karena pertemanan, saya menelantarkan blog tutorial saya, saya lupa dengan core business saya.

Dan baru-baru ini saya menyadari adanya perbedaan pandangan dalam tubuh KPLI. Misalnya pandangan yang menyatakan bahwa “setiap komunitas linux di NTB wajib tunduk dibawah kepemimpinan KPLI NTB” atau “Kita harus menunjukkan keberadaan kita dan mendekati pemerintah”. Ini dua contoh pandangan yang membuat saya risau.

Untuk pandangan pertama, KPLI NTB tidak ada hak sama sekali untuk menempatkan komunitas lain di NTB dibawahnya, tidak peduli apakah komunitas itu berdiri dengan tenaga sendiri atau dibentuk dengan bantuan KPLI, kecuali komunitas itu sendiri menginginkannya.

Kita menghargai nilai dasar pergerakan kita, free as freedom!

Untuk pandangan kedua, saya menilai KPLI tidak perlu pusing memikirkan penolakan dari pemerintah, karena KPLI, khusunya KPLI NTB dalam pandangan saya, sasaran utamanya adalah masyarakat luas. Saya memberi nama MANUX bukanlah nama kosong, tetapi menyiratkan tujuan KPLI. MANUX adalah MASYARAKAT pengguna Linux.
Karena sungguh, masyarakatlah penggerak utama negara ini.

Komentar Blek:
Tentang “setiap komunitas linux di NTB wajib tunduk dibawah kepemimpinan KPLI NTB”, saya rasa itu joke dari ucapan: “setiap komunitas linux di NTB sebaiknya dibawah KPLI NTB”.

Btw, joke itu juga masih salah. Yang benar adalah:

“setiap komunitas linux di NTB wajib tunduk dibawah kepemimpinan Kekhalifahan Yang Mulia Ketupang Amrin Zulkarnain.” Ingat? Itu saat kita mabuk pokari sweat sama teh botol sama Yan di sumbawa! :mrgreen:

Yah, kita semua pahamlaaah… =))
Dan satu lagi, ketupang, saya rasa sebaiknya anda berhenti memikirkan terlalu serius. KPLI kita bukan sesuatu yang bikin jidat berkerut. Jalani saja.

Niwe, kenapa sebaiknya dibawah KPLI NTB?
Alasan “mengapa sebaiknya” tersebut banyak di milis.
Dan tidak ada unsur pemaksaan sama sekali, karna saya yakin, tidak gabung maka komunitasnya mati sendiri kok. Contoh tersebut sudah banyak saya lihat.

Saya memberi nama GEMBEL bukanlah nama kosong, tetapi menyiratkan apa itu KPLI. GEMBEL adalah GEROMBOLAN pengguna Linux.
Karena sungguh, gerombolanlah yang membuat komunitas ini ada.
Dan #anakdompu, SeratiMoti, serta BOWLING tentu memiliki “Karena sungguh,”nya masing-masing.

Bukan tanpa alasan, mengapa pedagang-pedagang PC/Laptop memilih menyertakan Windows dalam penjualannya, bukan OS lain – meskipun hal ini ilegal. Karena adanya permintaan dari masyarakat.
Inilah yang harus dirubah.

Masyarakat itu bukan sekedar 25 SKPD provinsi, bukan juga kementerian kominfo, atau ristek atau diknas, bukan.

Lagipula, sudah saatnya kita merubah fokus, karena sekarang ini pemerintah sudah bergerak sendiri melakukan migrasi. Mereka sudah siuman. Tidak perlu lagi dikeloni terlalu ketat, mari kita perhatikan masyarakat yang selama ini kita anak tiri-kan.

Dan linux bukan sekedar seminar, workshop, sosialisasi dan sebangsanya. Linux bisa juga menjadi jalan sehat, lomba mewarnai, lomba makan, dan lainnya. Seperti kata teman saya. Go get real life dude!

diculik paksa dari note pesbuk Sang Ketupang oleh piko.

Peran Kaipang dalam Migrasi PemProv NTB

Seperti yang telah disebutkan di atas bahwasanya Kementerian Riset dan Teknologi bersama-sama dengan seluruh stakeholder IT dan dalam kesempatan pelaksanaan kegiatan model migrasi OSS di 15 titik Provinsi/kota/kabupaten (di jadwalkan Bulan Agustus 2010 sampai dengan November 2010) RISTEK bekerjasama dengan Makara UI yang didukung oleh PT. Ardelindo Aples, POSS UI, NF dan Komunitas OSS Lokal.

nama saya, piko, saya mau menyuarakan hati saya lewat blog kpli ntb ini, dst… entah tulisan ini tujukan kepada siapa, saya cuma mau curhat sejenak.

sejak agustus dulu, koar-koar tentang migrasi perangkat lunak terbuka di lingkungan pemerintah provinsi NTB sempat membuat saya bersemangat. akhirnya, migrasi itu dilaksanakan tanggal 4-9 oktober 2010 yang mana isinya adalah tidak sesuai dengan apa yang saya perkirakan.

saya mengira demikian : ada tim migrasi dan kaipang diikutkan di dalamnya, termasuk di dalamnya bekerja di lapangan, berhadapan langsung dengan komputer milik pemerintah, bukan saja memigrasikan orang-orangnya (pelatihan PNS).

ternyata oh ternyata, peran kami di sini tidak seindah itu. kaipang hanya mendampingi pelatihan. terus terang saya kecewa.

ternyata, sudah ada tim migrasi tersendiri dan progressnya sudah berjalan 30-40 persen di kantor-kantor dinas dan itu sudah berjalan berbulan-bulan yang lalu (bahkan kaipang pun tidak diberitahu! serasa kami anak tiri di rumah sendiri). PDE NTB, mereka cerita betapa sulitnya proses migrasi itu. sebagian besar komputer yang dimigrasikan diinstall dualboot dengan windows, kalimat sebenarnya, “sangat sedikit yang diinstall linux thok, single boot.”.

wah, kapan migrasinya kalo masih dualboot dengan windows? saya berani bilang, kalau migrasi masih dualboot, NTB go open source sama saja boong, buang-buang uang rakyat.

seseorang dari PDE memberikan alasan yang masih sulit saya terima : cuma sedikit yang single boot, karena orang-orang butuh beradaptasi dulu. NTB go open source kan masih lama, 2013.

bantahannya kurang nonjok, bukankah PNS hanya perlu belajar sedikit lagi tentang sistem operasi ini dan makara UI beserta kaipang sudah memberikan pelatihan yang membosankan dan kami lelah selama 5 hari? dan bukankah dulu mereka bilang, nantinya hanya komputer tertentu (semisal program lokal khusus yang hanya berjalan di windows) yang dipasangkan dualboot? lain kata lain tindak. saya berani bertaruh, kalau dualboot, PNS akan lebih memilih booting ke windows ketimbang linux. migrasi jalan di tempat.

2013, pandai pula mengulur waktu. saya kira, kalau memang mau migrasi, ya memang harus sedikit memaksa. kalo ndak ya habis perkara, kita orang indonesia.

peran kaipang terbatas cuma di sini saja, sebagai pendamping di pelatihan PNS-nya, padahal kan kita juga punya semangat open source yang sama, bahkan semangat kami lebih besar!



%d blogger menyukai ini: