Posts Tagged 'kaipang'

Migrasi GNU/Linux, antara masalah teknis dan hasrat aktivis

Ketika saya dihubungi Pak Olan perihal migrasi sistem operasi di sebuah cabang perusahaan BUMN, hati saya berbunga-bunga. Sejak migrasi NTB Go Opensource beberapa tahun yang lalu (yang konon katanya tidak begitu berhasil), saya menginginkan sekali komunitas terjun langsung ke proses migrasi dan menjadi helpdesk, selain membantu secara langsung juga menambah pengetahuan dan pengalaman. Keinginan ini tidak tercapai, KPLI NTB hanya berkontribusi sebatas pada acara pelatihan. Pengalaman langsung proses migrasi tersebut akhirnya saya dapatkan sekarang, meskipun prosesnya terkesan mendadak dan tidak terencana. Saya dan Cepul berjuang selama lebih dari 2 minggu dengan 13 unit PC untuk menyelesaikan pekerjaan ini. Sejujurnya, kami kewalahan karena :

  1. Tidak ada survei terlebih dahulu / informasi lengkap mengenai bagaimana kondisi infrastruktur IT di cabang perusahaan tersebut.
  2. Tidak ada media percobaan untuk aplikasi/program khusus yang digunakan oleh perusahaan tersebut sebelum diimplementasikan langsung.
  3. Waktu yang sangat terbatas dan tuntutan kejar tayang.

Pada kenyataannya, cabang perusahaan tersebut sebenarnya sudah bermigrasi sebelumnya namun karena dukungan IT internal yang kurang baik dan beberapa masalah teknis yang tidak kunjung diselesaikan, beberapa unit kembali balik menggunakan Microsoft Windows. Jadi yang saya lakukan sebenarnya bukanlah proses migrasi, melainkan meluruskan jalan yang melenceng. Entah mengapa, sebenarnya saya tidak begitu bersemangat dibandingkan ketika membantu proses migrasi di Pemda Prov NTB.

Saya tidak akan menjelaskan secara detail sesuatu yang berkaitan dengan privasi perusahaan. Berikut saya lampirkan hal-hal penting menyangkut proses migrasi tersebut.

Sistem Operasi

Sistem operasi yang direkomendasikan dari pusat perusahaan adalah Ubuntu 9.10, tapi kami bersikeras pada pendapat bahwa mempertahankan versi lawas untuk penggunaan Desktop adalah tidak keren. Banyak masalah bisa diselesaikan jika mengikuti perkembangan versi (misal tersedianya paket di PPA untuk rilis-rilis tertentu).

Jadi kami memutuskan untuk menggunakan Ubuntu 12.04 LTS, selain solid, dukungannya juga masih sangat panjang, yakni 2017. Panjang umur Precise! Masalah versi ini sebenarnya cukup memusingkan tatkala kami mesti menyambungkan file sharing PC Ubuntu 9.10 dengan PC Ubuntu 12.04. Versi Samba yang terpaut jauh ternyata tidak selalu akur.

Untuk desktop, kami menggunakan Gnome Classic (No Effect) atau MATE agar pengguna yang sudah familiar dengan versi 9.10 bisa beradaptasi dengan cepat.

Dosemu

Aplikasi khusus perusahaan tersebut (untungnya) berjalan di bawah DOS dan Dosemu berperan penting di sini. Lupakan WINE, kami membuat Dosemu menjadi default untuk berkas berekstensi *.EXE. Entah kami mesti jengkel atau salut dengan programmer-nya yang old-styled.

Encoding CP-437

CP-437 adalah encoding yang umum digunakan di program DOS/Windows 3.1, set karakter asli dari IBM PC. Aplikasi khusus perusahaan tersebut menghasilkan berkas laporan dalam berkas berekstensi *.TXT dengan encoding CP-437. Berkas laporan tersebut berisi tabel-tabel rumit yang garisnya dibentuk oleh karakter-karakter khusus. Terpujilah masa lalu. Ini benar-benar membuat pusing. Satu-satunya (sejauh yang saya coba) aplikasi penyunting teks yang bisa membuka berkas encoding CP-437 dengan “sempurna” adalah sublime_text, sayangnya sublime_text tidak menyediakan fasilitas mencetak.

Solusi yang kami temukan adalah mengkonversi berkas tersebut ke UTF-8 dengan script kecil berikut :

#!/bin/bash
cd /home/user/path/to/files/

SAVEIF=$IFS
IFS=$(echo -en "\n\b")

for file in $(ls *TXT)
do
  name=${file%%.TXT}
  iconv -f CP437 -t UTF-8 $name.TXT > $name.print
  mv $name.print ~/Desktop/
done

Kemudian membiarkan Gedit melakukan sisanya. 🙂

Jika pada Ms. Windows, font yang cocok untuk printer dotmatrix dan tabel dalam CP-437 adalah Courier New, maka di GNU/Linux, Freemono adalah yang paling cocok dan mirip.

Printer

Berikut daftar printer yang digunakan :

  1. LQ2180 (didukung langsung)
  2. LX300 (didukung langsung)
  3. Canon iP1980 (paket proprietary)
  4. Canon MP250 dan sebangsanya (paket proprietary)
  5. Epson Tx121 (paket proprietary)
  6. HP Deskjet Ink Advantage – lupa type (didukung langsung)

Dari keseluruhan printer Inkjet, saya sangat merekomendasikan printer merek HP. Bukan ngiklan, tapi semua fitur penggerak printernya memang sangat lengkap dan juga bebas, dan yang paling memudahkan, sudah tersedia langsung di setiap distribusi populer. Berbeda dengan penggerak proprietary Canon, yang mesti diunduh terpisah dan fiturnya lebih lengkap di versi Ms. Windows.

Bahkan setelah migrasinya selesai satu persatu, kami masih kewalahan menerima panggilan telepon dan bolak-balik sana-sini untuk menangani langsung masalah yang tersisa. Untungnya sekarang sudah selesai dan kami menerima sejumlah dana yang dibayarkan, disisihkan sebagai upeti untuk Kekaisaran Kaipang. 😀

Reblog dari blog penulis : http://blog.pdft.net/2013/11/migrasi-gnulinux-antara-masalah-teknis-dan-hasrat-aktivis/

Iklan

Kudeta Kopdar 12-14 OKtober 2012 @ Gunung Rinjani

Alkisah, kala itu kami kopdar biasa, menyambut mampirnya Pak Teguh ke Mataram. Yang hadir, saya, Cepul, Rizky, Pak Teguh dan kawannya Pak Teguh yang namanya Pak Iwan. Rencananya, Teguh dan Yan mau mendaki gunung Rinjani besoknya, esalah malam ini juga. Baru saja cuap-cuap sedikit, Pak Teguh melontarkan pertanyaan yang bikin saya kalap.

“Mau ikut?”

Bulan Oktober (biasanya bulan Oktober keatas, pendakian dihindari karena cuaca buruk)? Tanpa porter (maka beban yang kami bawa tidak akan ringan)? Hanya 2 hari (bakal kejar waktu)? dan berangkat malam ini juga? Kampret bener. Satu-satunya kudeta kopdar paling ekstrem. Tapi bagi pendaki macam Yan, Teguh, dan Pak Nara (diperkenalkan kemudian, Pak Nara pernah mendaki gunung apa itu lupa saya di pulau Sumatera sana, selama 17 hari. pushed me to put some respect), barangkali hal demikian bukan apa-apa.

Asal hari senin sudah bisa ngantor lagi, saya iyakan. Meski sempat berubah pikiran, saya bilang saya ikut. Cepul juga. Langsung saat itu juga saya dan Teguh keliling Kota Mataram buat nyari tenda sewaan dan kompor gas mini untuk tabung gas botolan. Tenda dan nesting dapat, tapi tidak dengan kompor gas mini. Waktu itu sudah jam sepuluh malam. Setelah sepakat bertemu di suatu tempat setelah packing, saya pulang ke rumah, buat packing semua-semua yang kira-kira penting. Uang saya yang tinggal 50ribu cuma saya belikan tisu basah, baterai untuk senter, dan beberapa bungkuns mie instan. Sekampret-kampretnya Cepul saya temui saat kami packing. Dia batalkan. Setelah debat-paksa plus bujukan Yan via telepon, akhirnya Cepul jadi ikut. 20 menit plin-plan yang sia-sia. Sementara Yan dan kawannya yang bernama pak Nara, menyebrang dari sumbawa ke pulau Lombok dan langsung menuju Aikmel, menunggu di sana.

Kami berangkat pukul 12 malam dari Mataram, berempat : Saya, Cepul, Teguh, dan Iwan. Sampai di Aikmel sekitar jam setengah 2, ketemu Yan dan Pak Nara. Terus kami menuju Sembalun. Motor yang digunakan Teguh mogok, mesti maen jemput-jemputan. Sampai di Wisma penginapan sekitar jam 3, langsung tidur lelap.

Paginya kami sarapan dan dapat pinjaman piring+gelas, sleeping bag, dan parang (nantinya parangnya hilang entah dimana) dari tempat penginapan. Setelah berhasil bikin kompor aneh dari kaleng minuman, kami berangkat melalui jalur resmi Sembalun. Motor dititip di sebuah gubuk di atas, ratusan meter dari pintu masuk.

Rencana kami adalah, begitu sampai di Plawangan, kami akan lanjut turun ke danau. Baru esoknya pulang dari danau mulai pukul 10 atau 11. Kira-kira kami punya waktu sekitar 4-5 jam bebas di danau setelah istirahat tidur 6 jam.

Kami berangkat mendaki dan mulai dehidrasi. Tanpa persiapan dan kurang tidur, demikian juga yang lain, ini pertama kalinya buat saya. Sebenarnya saya cuma mampu mengingat sedikit perihal perjalanan berangkat. Kami makan siang sebentar di dekat pos 3, dengan sayur yang ada ulat-ulatnya. Btw ulat itu proteinnya tinggi lho, tapi tetep tidak kami makan ulatnya. Yang jelas saya kelelahan dan paling loyo dibanding yang lain. Bahkan saya sempat tidur pulas sementara kawan-kawan sibuk bakar jagung.

Saat kami mendekati Plawangan, rencana kami berubah. Pak Nara dan Cepul pengen muncak (mendaki hingga puncak). Saya langsung menawarkan diri untuk jagain tenda saja. Fisik saya benar-benar tidak kuat kali ini. Oh ya, ini bulan Oktober. Sewajarnya sudah musim hujan dan mulai badai. Tapi rupanya belum di atas sini. Malah, sisa-sisa musim panas masih ada. Jalan setapak penuh debu, kering kerontang, dan kami syukuri setiap bertemu kerindangan pohon besar.

Kami sampai di Plawangan Sembalun kira-kira saat hampir isya (ketinggalan sunset). Setelah istirahat sebentar, lanjut menuju bagian Camp Plawangan sebelah selatan. Kalau saya tidak salah ingat, kami sampai sekitar pukul 9 malam. Tidak sempat masak makan malam karena angin yang kurang bersahabat. Bangun tenda langsung terkapar tidur.

Pagi tiba. Sesuai dugaan saya, Cepul, Teguh, dan Pak Nara tidak jadi muncak, dikarenakan angin yang masih tidak bersahabat. Ada beberapa pendaki lain dikabarkan muncak, tapi banyak juga yang membatalkan diri. Jadi, perjalanan kami hanya sampai disini. Setelah mengisi persediaan air dari sumber air, kami pesta masak-makan-minum.

Oya, pendapat saya mengenai keputusan pihak Pemda membangun WC persis di dekat sumber air adalah kampret. Sejatinya sumber air itu dijaga dan dijauhkan dari yang kotor-kotor, kok malah bangun WC geje, sudah rusak pula sekarang. Teguh punya usul sebaiknya ditentukan sebuah area khusus tempat buang air yang agak jauh dari camp dan jauh dari sumber air. Jadi tempatnya jelas, biar gag melangkah salah-salah nginjek kotoran.

Setelah makan minum sambil canda tawa, kami packing lagi, bersiap-siap turun gunung. Kami mulai turun sekitar jam setengah 11 siang.

Waktu berjalan cepat dan kami sampai di pos 2. Kami masak makan siang di sini, dan mengambil air dari sumber air yang mesti disaring dengan kapas. Kalau tidak, airnya dicemari pasir dan tanah.

Setelah makan-makan dan canda tawa (yang kemudian saya mengambil kesimpulan, bagian paling asik dari perjalanan ini adalah saat kami istirahat masak-makan-minum dan ngobrol ngalor ngidul.) di pos 2, kami lanjut pulang.

Kami sampai di Sembalun pada saat petang. Setelah istirahat sambil nungguin beberapa anggota ekspedisi pada mandi, kami berangkat pulang. Kami ucapkan terima kasih kepada pihak penginapan yang telah meminjamkan alat makan, sleeping bag, dan parang (eh maaf parangnya hilang). Saya tidak ingat kami mulai cabut dari Sembalun jam berapa. Saya tidur ayam terus selama dibonceng motor (mohon jangan ditiru. berbahaya, kisanak). Yang jelas saya sampai rumah sekitar pukul setengah 1 dini hari.

Esok senin masuk kantor seperti zombie, dan esok selasanya saya ketemu lagi sama Teguh sambil saling menyerang-tekan paha.

Hahah, sure, it was fun.

Nah, secara sepihak saya menetapkan, salah satu program kerja Kaipang pada tahun 2013 adalah kopdar di Gunung Tambora.

Dilaporkan oleh piko yang dipipisin monyet. Kredit foto kepada ponsel pintarnya Yan.

Kaipang Goes ILC 2012 Malang

Sebenarnya tema perjalanan Kaipang Goes ILC kali ini adalah “Pecalang”, karena Blek tidak henti-hentinya membicarakan itu, dari sejak kejadian hingga kami pulang sampai saya bosan dengarnya.Karena perjalanan menuju ILC ini sangatlah panjang dan melelahkan, barangkali saya lebih banyak menulis tentang perjalanannya ketimbang ILC itu sendiri.

Pertama-tama kami ucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Bapak Ramiaji Lamsari, atas bantuannya, akhirnya kami bisa menekan biaya dan berangkat bertiga menggunakan 2 buah sepeda motor bebek.

Berangkat

Dengan asumsi, KPLI Meeting tanggal 15-16 September 2012 dan perjalanan sepeda motor sekitar hari, kami berangkat dari Mataram pada hari Kamis tanggal 13. Setelah gagal membujuk Ketupang untuk ikut, kami memutuskan perjalanan berangkat ini mesti sehemat-hematnya, tidak ada itu yang namanya penginapan, tidak ada nasi, tidak ada daging. Jadi kami beli sekardus Mie Instan Indomie Goreng dan akan masak di tempat dimana kami lapar (Ya, kami bawa seperangkat alat masak sendok garpu piring). Meskipun pada awalnya sempat balik lagi karena celana dalam ketinggalan, kami tiba di Lembar, siap melaut ke Bali.

Btw, di kapal sempat nyeduh Indomie pakai air panas seadanya, sebut saja makan mie setengah mentah setengah matang. Emang sejak kapan di atas kapal boleh bikin api unggun? Plus dapat beberapa bungkus cokelat dari orang tak dikenal yang kasihan pada kami.

Dari pelabuhan laut Padangbai, gantian saya yang dipaksa mengendarai sepeda motor sampai mendekati Denpasar, cukup untuk membuat keputusan bahwa mungkin saya tidak akan membeli sepeda motor.

Sampai di Bali, keputusan paling sulit adalah, dimanakah kita bermalam? Atau dimanakah kita membuat api untuk masak? Atau kadang-kadang, dimanakah kita pipis? Setelah muter-muter sebentar, kami putuskan untuk rehat di Pantai Kuta, lewat tengah malam kala itu. Kami gelar peralatan masak dan cari-cari kayu bakar di pantai yang bersih itu, dan disinilah saya diinterogasi oleh apa yang disebut blek sebagai Pecalang.

Pantai Kuta tengah malam, TKP Tragedi Pecalang

Pada awalnya Blek mendekati bangunan hotel dan minta izin pada petugas keamanan untuk cuci gelas buat nyeduh kopi, passed. Giliran saya cuci panci piring, saya menjatuhkan panci karena gugup diliatin sama anjing. Suara panci jatuh itu konstan menarik perhatian beberapa orang di sana, mana tengah malam pula, semua rata-rata memakai seragam keamanan. Ketika saya tanya, “Pak, boleh saya cuci panci dan piring sebentar?”. Seseorang bilang boleh, tapi kemudian yang lain bertanya balik, “Buat apa cuci panci?”
“Buat masak.” Saya bilang, dan mulailah saya ditanya macam-macam, terutama “Mana KTP kamu?”
Sebenarnya saya mau jawab pertanyaannya, tapi terlalu banyak pertanyaan, terlalu banyak orang, dan saya jadi gugup tak ketulungan. Jadi saya menyingkir balik, tapi diikuti semua orang. Hasilnya, Blek dan Cepul ikut diinterogasi. Dan untuk konfirmasi, tentu saja saya punya KTP, saya ini WNI yang sah.

Kesimpulannya, di Pantai Kuta tidak boleh masak/membuat api, kami mesti pulang ke Mataram, atau paling tidak menyingkir dari sini. Yoi, setelah minta izin cuci piring sekali lagi (dan dikasih izin), kami menyingkir dari pantai kuta.

Awalnya saya sempat tersinggung. Okelah kita tidak jadi bikin api di pantai, tapi kok tetep diusir. Kok bule masih boleh mondar-mandir di pantai. Tapi lama-lama ngerti juga. Bali sudah pernah dibom 2 kali oleh orang dari bangsa sendiri. Entah atas dasar rasis atau paranoid, keknya sudah sepatutnya ada pencegahan. Demikian kata Blek.

Selanjutnya, saya diolokin terus perihal Pecalang ini. Tapi sumpah saya bukan teroris.

Ngopi yok ngopi

Kami lanjut jalan cari hotel kawannya Blek buat numpang nginap, tapi sudah tutup. Untungnya ada Pedagang Nasi Goreng yang mau tutup dan boleh dimintain air panas buat seduh kopi. Setelah liatin bule mabuk melintasi jalan lalu tidur glengseran di emperan toko (yang kemudian hilang entah kemana), kami lanjut kencangin gas sepeda motor sampai pagi.

Pagi sudah tiba, mata terkantuk-kantuk, badan sudah lemas, Blek tiba-tiba membelokkan motor, masuk ke Pos Polisi dan minta izin untuk istirahat di pos tersebut. Setelah periksa KTP dan isi tas/ransel, kami diizinkan istirahat di pos polisi tersebut (selanjutnya pos polisi adalah andalan kami untuk tempat istirahat meluruskan kaki). Kami istirahat hanya 3 jam. Jam 9 siap-siap berangkat lagi, jam 10 meluncur menuju Gilimanuk.

Pos Polisi tempat kami istirahat. Makasi Bapak Polisi!

Di pantai Soka-lah untuk pertama kalinya kami bisa bikin api unggun buat masak. Meski awalnya disuruh pindah lokasi karena asapnya bakal mengganggu rumah warga, kami berhasil bikin api unggun dan masak air. Mie Goreng siang itu memang nikmat, mie goreng pertama yang benar-benar dimasak sampai mendidih, juga kopi panas plus udara pantai yang bikin wajah kami berminyak.

Pantai Soka

Waktu makan telah tiba! (yahoo)

Kami tiba di Gilimanuk pada petang hari. Naik kapal sekitar 20 menit, dan makan malam di sekitaran Pelabuhan Ketapang. Karena sejak awal tidak ada alokasi dana untuk penginapan, lagi-lagi keputusan sulit. Lanjut jalan atau tidak? Kalau lanjut, ngantuk gag? Kalau istirahat, istirahatnya dimana?

Akhirnya kami putuskan lanjut jalan. Tangan saya terpaksa diiket di perut Blek, supaya saya tidak jatuh kalau ketiduran. Kami lewati hutan pohon jati di daerah Banyuwangi, yang kata orang banyak dedemitnya. Ah, peduli amat tapi ponselnya Blek jatuh di sana. Karena menurut Blek, nomor kontak di ponsel tersebut sangat penting, kami mesti balik kembali lagi puluhan kilometer menyusuri jalan, mencari-cari ponsel yang entah sudah berkeping2 dilindes truk, dikantongi orang, atau sembunyi di semak-semak. Ponselnya tidak ditemukan. Saya dan Cepul lihat meteor yang pancaran cahayanya panjang dan besar, macam kamekameha. Tumben saya lihat meteor macam itu, mungkin secara hutan jati Banyuwangi sangat2 bebas polusi cahaya, milkyway saja terlihat jelas.

Nginap di bale-bale/berugak SPBU (ninja)

Di daerah Situbondo, kami menemukan SPBU yang berugak/bale-bale-nya bisa ditempati untuk istirahat (selanjutnya SPBU adalah andalan kami untuk tempat menginap). Paginya berangkat lagi, melewati daerah yang beraroma tebu. Secara tidak sengaja menemukan pantai yang sepi, cocok buat tempat bikin api untuk masak. Dan beruntung sekali kami, di sana juga ada pipa air yang mencuat ke atas dan mengalirkan air jernih terus menerus. Setelah berdebat apakah itu air PAM atau air sumur bor, kami masak mie goreng matang kami yang kedua, plus daun bawang yang banyak sekali (tapi sebenarnya enak) dan entah sayuran apa lagi itu yang dimasukin sama Blek yang bikin nafsu makan merosot. Mie Goreng ludes, kopi ludes, ubi ungu juga ludes.

Penyelamat kami : air PAM atau sumur bor?

Kami berangkat lagi menuju Pasuruan, kemudian belok ke arah Malang. Dan tibalah kami di Malang.

Malang

Kami tiba di Malang pada sore hari. Terima kasih kepada Wilhi, atas tumpangan nitip tas, plus masak dan cuci jemur baju. Selagi semua barang dititip aman, kami menginap di warnet 24 jam yang koneksinya lambat banget, pesan paket sampai pagi.

Acara hari sabtu tanggal 15 adalah Seminar nasional oleh Onno W Purbo dan Pak Rus. Saya sih kurang dengar apa yang diomongin (kalau tidak salah Media Center dengan Raspberry Pi dan OpenBTS, tapi kami dapat buku terjemahan WNDW edisi kedua yang salah satu pengalih bahasanya, pak Onno sendiri). Saya sih cuma nunggu sesi foto-foto bareng beliau berdua. Kemudian dilanjutkan dengan seminar oleh Pak Rusmanto dari infolinux.

Kang Onno saat memberikan materi seminar

Oiya, kami bertemu dengan dedengkot lama Kaipang yang sekarang sudah pindah ke Jawa, yakni Pak Yudhan Cahyono, yang mana sebelumnya sempat meneror Panitia ILC2012 (ninja).

lama tak jumpa, pak Yudhan…

KPLI Meeting

Malam harinya, adalah KPLI Meeting, dibuka oleh perwakilan KPLI Malang sebagai penyelenggara, dipimpin mas Ihsan aka Saujiro sebagai moderator. Kemudian dilanjutkan dengan napak tilas Indonesia Linux Conference dari 2009 sampai 2011. Saat pemilihan kandidat penyelenggara ILC selanjutnya, yang menawarkan diri adalah KPLI Aceh, KPLI Sinjai dan Tegal dengan keputusan ILC tahun depan (2013) diadakan di Aceh.

Suasana KPLI Meeting

Cepul sedang menjelaskan “Apakah itu Kaipang?”

Blek on eksyen

Disalin dari laporan KPLI Semarang, berikut utusan KPLI/Komunitas yang hadir di ILC 2012 (secara saya sendiri gag denger).

“Hai… “

KPLI Aceh
KSL UIN Jogja
KPLI Jogja
KPLI Bojonegoro ( BOLUG )
KPLI Surabaya ( KLAS )
Blankon oleh Pak Aftian
Koelit
KPLI Tegal
KPLI Jombang
KPLI Bogor
KPLI Sinjai
KPLI Ujung Pandang ( LUGU )
KPLI Kediri
KPLI Paiton
KPLI Bandung ( KLUB ) oleh pak Nana Suryana
KPLI Semarang ( KLISSE ) oleh Muhammad Abdul Majid ( @kangmejid )
KPLI NTB ( Kaipang )
KPLI Madiun
KPLI Bekasi ( BELL )
KPLI Sulawesi Barat ( SULING )
KPLI Sidoarjo
KPLI Malang ( KOLAM )
Sahabat Blankon Semarang ( SBS ) oleh Richad Avianto ( @aviantorichad )
KPLI Kendari ( KLUX )
KPLI Palu
KSL Unram

Usulan yang tertuang pada KPLI Meeting :

Tugas utama tuan rumah ILC 2013 adalah mempersiapkan proposal maksimal 3 bulan setelah ILC 2012
Draft proposal dikirim ke setiap KPLI seluruh Indonesia
Meyelenggarakan ujian sertifikasi dalam rangkaian acara ILC
Keputusan KPLI Meeting ILC 2012 Malang

Dari meeting yang berlangsung dari pukul 16.30 sampai dengan pukul 00.30

Dan keputusan ILC 2012 adalah sebagai berikut :

Tuan rumah ILC 2013-2015 berturut-turut adalah Aceh, Sinjai, Tegal.
Membantu membentuk delegasi panitia ILC disetiap KPLI seluruh indonesia
Membentuk steering comite untuk membantu KPLI yang menjadi tuan tumah ILC
Melanjutkan keputusan ILC 2010 untuk membentuk kelompok Linux cewek
Mendokumentasikan kegiatan ILC termasuk nama dan asal setiap peserta ILC

Kemudian KPLI Meeting ditutup. Acara untuk hari minggu ditiadakan, melenceng dari jadwal semula. Kala itu saya berharap andai saja ada lebih banyak waktu untuk berbagi antar KPLI/komunitas.

foto bersama peserta KPLI Meeting

Narsis bersama Mantan Manajer Rilis BlankOn Pak Aftian dan Pimpinan Redaksi InfoLinux Pak Rusmanto

Narsis bersama Bapak Onno W Purbo. Makasi ya pak, bukunya tebal sekali!

JKT48

Pak Anjar! (rock)

Pertama-tama kami ucapkan terima kasih kepada Pak Anjar, Mbak Yenni, dan Mbak Mammi yang membantu kami dan terutama perihal celana. Lupakan ‘studi banding’ karena tidak cukup waktu (bayangkan kami hanya punya waktu 6 jam efektif selama di Jakarta, tentunya setelah dikurangi waktu tidur yang kebablasan).

Demi menuntaskan mimpi kawan kami yang sedang kena demam, si Cepul (yang mana lebih dahulu menodong Mak Risti perihal Official Guide JKT48), habis ILC kami berangkat ke Jakarta. Karena tiket kereta susah diburu, kami pakai jasa dadakan, numpang mobil orang. Dan tiket pulang dengan kereta dipesan lebih awal (tiket pulang ini pada akhirnya macam bom waktu, sungguh).

Adalah Pak Ahmad, yang menjadi rekan perjalanan kami ke Jakarta. Rencana awalnya, kami membayar masing 150k untuk menumpang di mobil Pak Ahmad. Pak Ahmad nyopir mobilnya keren banget, ngebut sana sini dan banyak manuver berbahaya, benar-benar menghemat waktu. Barangkali Pak Ahmad mantan preman di Malang, setiap ada halangan, he always passsed no matter what, hanya dengan lambaian tangan loh. Tapi begitu keluar dari Malang, kami ditahan polisi dan Pak Ahmad tak mampu mengelak, Kediri bukan daerah kekuasaannya. Mobilnya kurang surat kelengkapan dan surat pengantarnya tidak berlaku.

Andai mobil tersebut tidak ditilang dan tidak ada masalah, barangkali kami bakal punya waktu 2 hari di Jakarta. Kami beruntung, Pak Ahmad orang yang baik hati, mau bantu kami untuk coba undur tiket keretanya, kemudian nanti bertemu lagi di Jakarta.

Setelah rembuk dan debat sana sini, jadilah kami berangkat pakai Bis secara estafet. Satu orang lagi jadi rekan kami, yang juga sebelumnya ikut numpang mobil. Namanya Kang Ardi. Setelah sampai di Solo, kami berpisah. Kang Ardi ke Semarang, sementara kami diburu waktu, kami langsung ke Jakarta dan merelakan harga ke calo. Hi calo, damn you, but thank you.

Akhirnya dapat bis yang jalannya ngesot dan bau muntah. Lalu dapat kabar buruk dari Pak Ahmad bahwa tiket pulang tidak bisa diundur yang mana berarti kami benar-benar punya sedikit waktu di Jakarta. Eh, terus saya salah lompat turun bis di daerah Cempaka Putih. Kami kumpul lagi di Starbuck (Blek dan Cepul jalan kaki berkilo-kilo meter sebelum tiba, baju basah oleh keringat). Kopi mahal dan enak.

coffe bastards @Starbuck

Istirahat di Wisma ISE dan esoknya bangun kesiangan. Nah, kami sarapan Soto Betawi. Rasa oke, 1 porsinya sangat kelebihan buat perut saya.

Soto(y)!

Terus kami jalan-jalan ke FX, si Cepul pengen liat teater JKT48. Saya gag ingat persisnya disini ngapain saja, lagi migrain waktu itu.

Cepul @JKT48Theater

Terus kami dijemput Mbak Yenni, “Hai, lagi..”. Cepul dan saya nonton imax 3D Resident Evil : Retribution, 15 menit yang “wah” yang kemudian bikin saya frustasi kenapa di Mataram gag ada bioskop satu pun (paling enggak saya bisa nonton The Hobbit tepat waktu dan gag lagi nonton dari berkas bajakan). Pisah sama Mbak Yenni (Makasi!), saya dan Cepul ke Ragunan, sementara karena Blek anak yang berbakti, mampir ke rumah ibunya.

ngeluyur di Kebun Binatang Ragunan

Sudah sore waktu itu dan kami masuk Kebun binatang Ragunan secara ilegal (bayar uang gag jelas ke orang gag jelas). Sebagian besar binatang yang ingin kami lihat sudah dimasukin ke kandang dalam. Jepret-jepret sebentar, hari jadi petang. Seperti yang diceritakan orang-orang, di Jakarta tidak ada bintang, Matahari pun gag jelas bundarannya.

Habis itu malamnya kami ke Monas, ketemu Mbak Risti, “Hai, Mak…”. Cepul bahagia sekali malam itu, karena tangannya sudah menggenggam Official Guide JKT48. Terus jalan-jalan pakai kaki sambil ngobrol asik. Kemudian makan malam dengan murung (karena besok pulang) di Hokben. Terus balik ke Wisma ISE, istirahat.

ketemu Emak Risti @Monas

Pulang

Kami ketemuan lagi sama Pak Ahmad, seperti janji beliau. Setelah tiket di tangan, aman, kami mampir ke pasar senen buat buang waktu sampai kereta mau berangkat. Dan kampret bener, harga buku bekas di Pasar Senen murah banget. Duit buat pulang terbatas, jadi gag bisa beli banyak-banyak.

Mbak Risti mampir ke stasiun buat melepas kepulangan kami, “Makasi, Mak…”.

Nah, seperti apa yang saya baca dari tulisan Dahlan Iskan di koran, memang benar suasana kereta api sudah berubah. Empat tahun lalu waktu pertama kali saya naik kereta api Yogyakarta-Surabaya, keretanya benar-benar kumuh, sesak, banyak orang berdiri, bahkan tiduran di lantai koridor, dan calonya subur rimbun. Sekarang sudah lebih baik, peraturan satu orang satu kursi sudah cukup memberi perubahan.

Blek dan Cepul yang nelen antimo langsung terkapar, sementara saya tidur-tidur-ayam sambil baca komik yang saya beli di Pasar Senen. Btw, Blek sempat ngigau “Anjing!” bikin orang-orang pada noleh.

Kami sampai di Malang, ambil sepeda motor, dan setelah bilang terima kasih sama mantan panitia yang dititipi sepeda motor, kami cabut, pulang ke Mataram.

Di daerah Situbondo, kami istirahat malam di SPBU. Esok pagi berangkat lagi. Saat memasuki hutan jati di Banyuwangi, sudah malam. Kami motret-motret startrail bentar. Dan Blek pun bersumpah, “Kalo hape saya ketemu lagi nanti di sana, saya mau nembak cewek yang saya suka waktu SMA dulu”, yang mana kami amini dengan sangat. Tapi apalah daya, ponsel tersebut tidak ditemukan dan Blek pun tetap Jomblo.

Kami istirahat sebentar di pos penjaga hutan yang sangar tapi ramah. Motret startrail lagi. Ngobrol. Lalu lanjut jalan. Tiba di Pelabuhan Ketapang, kami makan siang sebentar (karena dana sudah bisa diperkirakan, kami berani makan di rumah makan, tetep sih, pesen yang paling murah).

Nah, setiba di Bali, saya dan Blek pisah sama Cepul, begitu turun dari kapal dia langsung hilang lenyap. Si Cepul katanya mau mampir entah kemana di Denpasar, sementara kami lewat jalur Utara. Kami sempat khawatir akan Cepul, barangkali dia ditangkap densus karena tidak punya katepe. Di jalur utara, udaranya lebih bersih, dan lebih banyak kesempatan melihat sawah berundak. Banyak spot foto landscape yang bagus dan saya menyesal tidak bawa lensa kit. Kami sempat mampir ke pantai Lovina, yang konon asal mula nama tersebut berasal dari Raja Buleleng pada masa lalu. Orang sekarang mengkaitkan Lovina dengan Love Indonesia. Ah, dimanapun tempat di Bali, saya sulit jadi suka, secara saya pobhia sama anjing.

Setiba di Pelabuhan Padangbai, kami beruntung dapat kapal yang sepertinya baru diimport. Serba baru, bahkan ada panggung musiknya. Dan tibalah kami di tanah kekuasaan Kaipang, pulau Lombok.

Bukan pergi dan pulang

Dengan demikian berakhir pula perjalanan ini dan sekali lagi Blek menginap di kamar saya yang kecil. Sementara Cepul selamat pula tiba di tanah kelahirannya. Tunggu kami, Aceh! (Entah bagaimana cara kami kesana nantinya).

bonus :

Niatnya Cepul yang sebenarnya bukanlah ILC, tetapi…

bahagia

Kopdar Perjuangan, 03-04 Februari 2012

Bosan tentang kabar kopdar di Pulau Lombok? Bagaimana kalau sekali-sekali ada kopdar di pulau Sumbawa. Seperti yang diketahui umum, anggota kaipang di pulau Sumbawa rata-rata terpisah satu sama lain dengan jarak minimal 60 kilometer jalan darat. Yoi, anda tidak salah dengar. Minimal. Dan kalau anda masih menanyakan kondisi jalannya secara fisik seperti apa, anda pasti ga ikut ILC2011.

Jadi, untuk kopdar yang dihadiri empat orang saja, pak Olan harus bawa mobil (dulu motor, tapi sekarang udah beli Mobil, katanya sih buat dinas kaipang 😛 ) dari ujung paling timur propinsi NTB, Sape, untuk menjemput pak Ram di Cenggu, yang kemudian mengarah ke Dompu untuk menjemput saya, Blek, dan temu kangen dengan Ukang (yang ga bisa lanjut ikut kopdar karna kudu jaga kebun Cyber). Dari sana, keduanya saya sopiri ke Calabai, ujung utara pulau Sumbawa, untuk bertemu Teguh.

Agenda kopdar:
1. Dengerin lagu Iron Maiden dan AKB48 di sound system mobil baru pak Olan.
2. Motret.

Ha? Motret? Yoi. KPLI-NTB itu kepanjangannya Komunitas Photographer Laknat Indonesia – Nusa Tenggara Barat.

Oh ya, waktu yang diperlukan untuk kopdar ini adalah dua hari.

Kopdar Malam Selasa Pon – 31 Oktober 2011

Pak Olanuxer dan Pak Safril, prajurit Kaipang dari Sumbawa nun jauh disana,  tiba di Mataram untuk urusan pelatihan pendidikan, jadi kopdar untuk menyambut mereka diadakan pada malam, 31 Oktober 2011 bertempat di Kedai Hotspot.

Anggota yang hadir antara lain YM Ketupang Amrin Zulkarnain, Sapto Sutardi, Rizky, Saiful Bahri, saya sendiri, dan 2 orang lagi yang saya lupa kenalan. Sudah lama Kaipang tidak kopdar semenjak ILC dan mampirnya Ketua LUGU di Mataram. Tidak mulu ngomongin linux, sempat coba Iris (tiruan Siri dari iPhone4S untuk android, tidak secerdas Siri) di ponsel Mas Sapto, berbagi berkas multimedia yang melimpah (terutama untuk harddisk baru 750GB milik pak Safril), nyeruput kopi dan nyemil keripik, dan banyak lagi pembicaraan tapi saya kebanyakan gag dengar.

Demikian laporan. Terima kasih.

tangkapan layar :

CMS Website Siap Pakai khusus Sekolah

adalah rilis dari http://kajianwebsite.org, sebuah CMS yang sudah dikonfigurasi sehingga siap pakai untuk kebutuhan website sekolah. tidak perlu stress memikirkan kategori, pemilahan isi, dan blablabla lainnya, cukup pasang, buat tema, dan isi. benar-benar memudahkan dan menghemat waktu bagi sekolah2 yang ingin segera mempunyai website sendiri. bahkan pihak sekolah tidak perlu membuang-buang uang dengan menyewa jasa pembuatan website, cukup dipelajari sedikit dan diisi sendiri, jadi.

silakan unduh sourcenya di : http://kajianwebsite.org/download/

untuk konfigurasi awal, cukup mudah. dalam contoh ini saya memasangnya di komputer pribadi (debian squeeze)

  • pastikan apache dan mysql sudah terpasang dan jalan, berikut phpmyadmin untuk mempermudah.
  • salin folder webtemp dari unduhan source ke /var/www/, ubah permissionnya agar bisa dibaca semua orang.
  • edit config.php di bawah folder lib. saya mengganti beberapa baris sesuai sistem saya :

$webhost = “http://localhost”;
$webmail = “admin@websekolah.sch.id”; << ini opsional,
$nmsekolah = “SMA Negeri 4 Bandung”; << opsional
$almtsekolah = “Jalan Gardujati No.20 Telp.022-6011186 Bandung”; << opsional
$dbhost = “localhost”;
$dbuser = “root”;
$dbpasswd = “isikanpaswotmysql”;
$dbname = “webtemp”;
$nmhost = “http://localhost/webtemp/&#8221;;

ada petunjuknya untuk mengubah beberapa hal lain, misal ada integrasi fb, tinggal baca2. kalau  mau pasang di hostingan di internet, domain dan dbmysql tinggal disesuaikan.

  • buka localhost/phpmyadmin, buat db baru, misal di sini webtemp, kemudian pilih import /var/www/webtemp/sql-cms.sql. pastikan sukses.
  • buka localhost/webtemp.
  • tada!
skrinsut :

Natty Release Party!



%d blogger menyukai ini: