Posts Tagged 'kopdar'

Kopdar 21 April 2013 @ Kedai Hotspot, Halo Bang Chi Mot!

kopdar22april

Kopdar 9 Maret 2013 #Seketupanggotmarried

Kabar baiknya, foto yang kemarin itu ternyata hanya foto ijab kabul. Resepsi resminya kabarnya belum digelar. Tapi eh kita sudah kopdar duluan. Mari kita tunggu kepastian tanggal pesta resminya. 😛

Akhirnya kami kopdar juga, untuk pertama kalinya, di kediaman Seketupang Marjeni. Yang datang lumayan. Sambil menunggu kepulangan istri Seketupang, kami ngalor ngidul.

Berikut tangkapan kamera :

JES_4008

JES_4010

Kudeta Kopdar 12-14 OKtober 2012 @ Gunung Rinjani

Alkisah, kala itu kami kopdar biasa, menyambut mampirnya Pak Teguh ke Mataram. Yang hadir, saya, Cepul, Rizky, Pak Teguh dan kawannya Pak Teguh yang namanya Pak Iwan. Rencananya, Teguh dan Yan mau mendaki gunung Rinjani besoknya, esalah malam ini juga. Baru saja cuap-cuap sedikit, Pak Teguh melontarkan pertanyaan yang bikin saya kalap.

“Mau ikut?”

Bulan Oktober (biasanya bulan Oktober keatas, pendakian dihindari karena cuaca buruk)? Tanpa porter (maka beban yang kami bawa tidak akan ringan)? Hanya 2 hari (bakal kejar waktu)? dan berangkat malam ini juga? Kampret bener. Satu-satunya kudeta kopdar paling ekstrem. Tapi bagi pendaki macam Yan, Teguh, dan Pak Nara (diperkenalkan kemudian, Pak Nara pernah mendaki gunung apa itu lupa saya di pulau Sumatera sana, selama 17 hari. pushed me to put some respect), barangkali hal demikian bukan apa-apa.

Asal hari senin sudah bisa ngantor lagi, saya iyakan. Meski sempat berubah pikiran, saya bilang saya ikut. Cepul juga. Langsung saat itu juga saya dan Teguh keliling Kota Mataram buat nyari tenda sewaan dan kompor gas mini untuk tabung gas botolan. Tenda dan nesting dapat, tapi tidak dengan kompor gas mini. Waktu itu sudah jam sepuluh malam. Setelah sepakat bertemu di suatu tempat setelah packing, saya pulang ke rumah, buat packing semua-semua yang kira-kira penting. Uang saya yang tinggal 50ribu cuma saya belikan tisu basah, baterai untuk senter, dan beberapa bungkuns mie instan. Sekampret-kampretnya Cepul saya temui saat kami packing. Dia batalkan. Setelah debat-paksa plus bujukan Yan via telepon, akhirnya Cepul jadi ikut. 20 menit plin-plan yang sia-sia. Sementara Yan dan kawannya yang bernama pak Nara, menyebrang dari sumbawa ke pulau Lombok dan langsung menuju Aikmel, menunggu di sana.

Kami berangkat pukul 12 malam dari Mataram, berempat : Saya, Cepul, Teguh, dan Iwan. Sampai di Aikmel sekitar jam setengah 2, ketemu Yan dan Pak Nara. Terus kami menuju Sembalun. Motor yang digunakan Teguh mogok, mesti maen jemput-jemputan. Sampai di Wisma penginapan sekitar jam 3, langsung tidur lelap.

Paginya kami sarapan dan dapat pinjaman piring+gelas, sleeping bag, dan parang (nantinya parangnya hilang entah dimana) dari tempat penginapan. Setelah berhasil bikin kompor aneh dari kaleng minuman, kami berangkat melalui jalur resmi Sembalun. Motor dititip di sebuah gubuk di atas, ratusan meter dari pintu masuk.

Rencana kami adalah, begitu sampai di Plawangan, kami akan lanjut turun ke danau. Baru esoknya pulang dari danau mulai pukul 10 atau 11. Kira-kira kami punya waktu sekitar 4-5 jam bebas di danau setelah istirahat tidur 6 jam.

Kami berangkat mendaki dan mulai dehidrasi. Tanpa persiapan dan kurang tidur, demikian juga yang lain, ini pertama kalinya buat saya. Sebenarnya saya cuma mampu mengingat sedikit perihal perjalanan berangkat. Kami makan siang sebentar di dekat pos 3, dengan sayur yang ada ulat-ulatnya. Btw ulat itu proteinnya tinggi lho, tapi tetep tidak kami makan ulatnya. Yang jelas saya kelelahan dan paling loyo dibanding yang lain. Bahkan saya sempat tidur pulas sementara kawan-kawan sibuk bakar jagung.

Saat kami mendekati Plawangan, rencana kami berubah. Pak Nara dan Cepul pengen muncak (mendaki hingga puncak). Saya langsung menawarkan diri untuk jagain tenda saja. Fisik saya benar-benar tidak kuat kali ini. Oh ya, ini bulan Oktober. Sewajarnya sudah musim hujan dan mulai badai. Tapi rupanya belum di atas sini. Malah, sisa-sisa musim panas masih ada. Jalan setapak penuh debu, kering kerontang, dan kami syukuri setiap bertemu kerindangan pohon besar.

Kami sampai di Plawangan Sembalun kira-kira saat hampir isya (ketinggalan sunset). Setelah istirahat sebentar, lanjut menuju bagian Camp Plawangan sebelah selatan. Kalau saya tidak salah ingat, kami sampai sekitar pukul 9 malam. Tidak sempat masak makan malam karena angin yang kurang bersahabat. Bangun tenda langsung terkapar tidur.

Pagi tiba. Sesuai dugaan saya, Cepul, Teguh, dan Pak Nara tidak jadi muncak, dikarenakan angin yang masih tidak bersahabat. Ada beberapa pendaki lain dikabarkan muncak, tapi banyak juga yang membatalkan diri. Jadi, perjalanan kami hanya sampai disini. Setelah mengisi persediaan air dari sumber air, kami pesta masak-makan-minum.

Oya, pendapat saya mengenai keputusan pihak Pemda membangun WC persis di dekat sumber air adalah kampret. Sejatinya sumber air itu dijaga dan dijauhkan dari yang kotor-kotor, kok malah bangun WC geje, sudah rusak pula sekarang. Teguh punya usul sebaiknya ditentukan sebuah area khusus tempat buang air yang agak jauh dari camp dan jauh dari sumber air. Jadi tempatnya jelas, biar gag melangkah salah-salah nginjek kotoran.

Setelah makan minum sambil canda tawa, kami packing lagi, bersiap-siap turun gunung. Kami mulai turun sekitar jam setengah 11 siang.

Waktu berjalan cepat dan kami sampai di pos 2. Kami masak makan siang di sini, dan mengambil air dari sumber air yang mesti disaring dengan kapas. Kalau tidak, airnya dicemari pasir dan tanah.

Setelah makan-makan dan canda tawa (yang kemudian saya mengambil kesimpulan, bagian paling asik dari perjalanan ini adalah saat kami istirahat masak-makan-minum dan ngobrol ngalor ngidul.) di pos 2, kami lanjut pulang.

Kami sampai di Sembalun pada saat petang. Setelah istirahat sambil nungguin beberapa anggota ekspedisi pada mandi, kami berangkat pulang. Kami ucapkan terima kasih kepada pihak penginapan yang telah meminjamkan alat makan, sleeping bag, dan parang (eh maaf parangnya hilang). Saya tidak ingat kami mulai cabut dari Sembalun jam berapa. Saya tidur ayam terus selama dibonceng motor (mohon jangan ditiru. berbahaya, kisanak). Yang jelas saya sampai rumah sekitar pukul setengah 1 dini hari.

Esok senin masuk kantor seperti zombie, dan esok selasanya saya ketemu lagi sama Teguh sambil saling menyerang-tekan paha.

Hahah, sure, it was fun.

Nah, secara sepihak saya menetapkan, salah satu program kerja Kaipang pada tahun 2013 adalah kopdar di Gunung Tambora.

Dilaporkan oleh piko yang dipipisin monyet. Kredit foto kepada ponsel pintarnya Yan.

Kopdar 2 September 2012 ft. Blek

Satu, karena Blek datang ke Mataram. Dua, karena bentar lagi mau ILC. Jadi kemarin kopdar di rumah Mamiq Isak. Yang datang : Piko, Cepul, Ketupang, Pak Ajoeh sekeluarga. Hidangan nasi goreng khas mamik + irisan sosis.

Sehubungan dengan ILC, opsinya antara lain, numpang mobil Pak Olan, numpang mobil Pak Ram, naek bis, dan naek motor. Sempat mau hompimpah buat mutuskan siapa yang ikut, tapi gag  jadi. Perkembangan selanjutnya akan dirangkum sekaligus dengan laporan perjalanan ILC.

Tunggu kami, Kota Malang!

Tangkepan kamera :

 

Eh, hampir lupa. Habis masak nasgor, anu-nya Mamik Isak sempat kebakaran karena terkontaminasi cabe.

Kopdar Ultah Kaipang Featured Mbak Yenni, 14 Juni 2012 @ SevenWonder

Oh, pertama-tama saya sampaikan dulu laporan kopdar paling murung sepanjang sejarah yang dihadiri 4 orang yang mukanya dilipat-lipat, pada hari Minggu, 9 Juni 2012 di Kedai Hotspot. Kopdar Akbar Kaipang yang kedua sekaligus Peringatan Ultahnya, anggaplah gagal. Undangan kemarin-marin itu sama sekali tidak menarik perhatian.

Tapi kemudian hari Senin, Mbak Yenni bilang (di plurk) mau ke Mataram, tepatnya ke Lombok Barat dalam rangka urusan dinas (masih berkaitan dengan open source). Rupanya Mbak Yenni bagai gula, semut-semut Kaipang langsung pada hadir ramai. Di Sevenwonder, hadir Mamik Ishak, Jeni, Saiful Bahri, Sapto, Pak Kun dan anak buahnya (lagi, saya lupa namanya), Ketupang (datang terlambat). Spesialnya, ini pertama kali Mamik Ishak memasak nasi goreng di luar rumah, sampai bela-belain bawa bahan buat masak nasi goreng, memenuhi janji kepada TYT. Hasilnya, nasi goreng kismis-teri-bajo.

Kami ngobrol banyak hal dan benar-benar menyenangkan, cerita2 lama, sambil makan nasi goreng kismis buatan Mamik, sambil sikat sate goyang lidah…. ah….

Berikut dokumentasi khas Pak Ajoeh, foto itu hukumnya hitam putih. Speed rendah tanpa flash. Beberapa orang dipaksa mematung sekian detik.

Akhir kata, semoga Kaipang panjang umur!

*TYT : Tamu Yang Terhormat

Kopdar : Sabtu 5 Mei 2012 @ Berugak Seven Wonder

Yang hadir : Cepul dan 3 pengikutnya dari Unram yang saya lupa namanya, Ketupang, Rizal, Sapto, Pak Kun, Jeni, dan saya. Seperti biasa, menu utama sate goyang lidah, kenyang tiada tara. Kesimpulan akhir, kami berencana mengadakan Kopdar Akbar se-NTB untuk memperingati Hari Jadi Kaipang yang jatuh pada tanggal 8 Juni 2012 (berdasarkan postingan blog yang bersejarah). Semoga terealisasi! #colek pasukan di Pulau Sumbawa.

Berikut tangkapan kamera Pak Ajoeh feat Lampu Kilat Yashica Si Jeni Yang Terangnya Bikin Buta.

Kopdar Perjuangan, 03-04 Februari 2012

Bosan tentang kabar kopdar di Pulau Lombok? Bagaimana kalau sekali-sekali ada kopdar di pulau Sumbawa. Seperti yang diketahui umum, anggota kaipang di pulau Sumbawa rata-rata terpisah satu sama lain dengan jarak minimal 60 kilometer jalan darat. Yoi, anda tidak salah dengar. Minimal. Dan kalau anda masih menanyakan kondisi jalannya secara fisik seperti apa, anda pasti ga ikut ILC2011.

Jadi, untuk kopdar yang dihadiri empat orang saja, pak Olan harus bawa mobil (dulu motor, tapi sekarang udah beli Mobil, katanya sih buat dinas kaipang 😛 ) dari ujung paling timur propinsi NTB, Sape, untuk menjemput pak Ram di Cenggu, yang kemudian mengarah ke Dompu untuk menjemput saya, Blek, dan temu kangen dengan Ukang (yang ga bisa lanjut ikut kopdar karna kudu jaga kebun Cyber). Dari sana, keduanya saya sopiri ke Calabai, ujung utara pulau Sumbawa, untuk bertemu Teguh.

Agenda kopdar:
1. Dengerin lagu Iron Maiden dan AKB48 di sound system mobil baru pak Olan.
2. Motret.

Ha? Motret? Yoi. KPLI-NTB itu kepanjangannya Komunitas Photographer Laknat Indonesia – Nusa Tenggara Barat.

Oh ya, waktu yang diperlukan untuk kopdar ini adalah dua hari.



%d blogger menyukai ini: