Posts Tagged 'migrasi'

Migrasi Warnet Kedai Digital Ke GNU/Linux

Kedai Digital, Jalan Kartini no: 18 Dompu Nusa Tenggara Barat.

Pemilik: Aba Lis (Mukhlis https://www.facebook.com/mukhlis.kedai)
Unit: 9 Unit (8 klien 1 billing)
Game Online: Ya (Steam)
File Sharing: Ya (samba)
Print Server: Ya (CUPS)
Mesin Fotokopi: Ya (Canon iR5000i dengan CUPS lewat LAN)
Sistem Operasi: Debian Wheezy 7.5 Gnome
Mandor Proyek: edzlapz (Edhi Kurniawan – https://www.facebook.com/edhidompu.bada)
Kuli Proyek: edzlapz juga
Pembantu Umum: blek

TOTAL BIAYA:
25 bungkus rokok, 47 gelas kopi, 30 donat, 25 nasi bungkus, 5 bungkus kacang, 11 botol teh, 120% cinta dan persahabatan.

Freezing system menggunakan Dafturn Ofris.
http://sourceforge.net/projects/dafturnofris-id/

Billing system menggunakan GBilling.
http://gbilling.sourceforge.net/

Berkas-berkas GBilling yang sudah dikompail untuk dapat berjalan di Debian Wheezy 7.5 untuk arsitektur x86 bisa didapatkan melalui:

Client – http://dompu.org/gudang/gbilling-client_0.3.2-1_i386_debian_wheezy_7.5.deb
Server – http://dompu.org/gudang/gbilling-server_0.3.2-1_i386_debian_wheezy_7.5.deb

migrasi-kedai-digital

Migrasi GNU/Linux, antara masalah teknis dan hasrat aktivis

Ketika saya dihubungi Pak Olan perihal migrasi sistem operasi di sebuah cabang perusahaan BUMN, hati saya berbunga-bunga. Sejak migrasi NTB Go Opensource beberapa tahun yang lalu (yang konon katanya tidak begitu berhasil), saya menginginkan sekali komunitas terjun langsung ke proses migrasi dan menjadi helpdesk, selain membantu secara langsung juga menambah pengetahuan dan pengalaman. Keinginan ini tidak tercapai, KPLI NTB hanya berkontribusi sebatas pada acara pelatihan. Pengalaman langsung proses migrasi tersebut akhirnya saya dapatkan sekarang, meskipun prosesnya terkesan mendadak dan tidak terencana. Saya dan Cepul berjuang selama lebih dari 2 minggu dengan 13 unit PC untuk menyelesaikan pekerjaan ini. Sejujurnya, kami kewalahan karena :

  1. Tidak ada survei terlebih dahulu / informasi lengkap mengenai bagaimana kondisi infrastruktur IT di cabang perusahaan tersebut.
  2. Tidak ada media percobaan untuk aplikasi/program khusus yang digunakan oleh perusahaan tersebut sebelum diimplementasikan langsung.
  3. Waktu yang sangat terbatas dan tuntutan kejar tayang.

Pada kenyataannya, cabang perusahaan tersebut sebenarnya sudah bermigrasi sebelumnya namun karena dukungan IT internal yang kurang baik dan beberapa masalah teknis yang tidak kunjung diselesaikan, beberapa unit kembali balik menggunakan Microsoft Windows. Jadi yang saya lakukan sebenarnya bukanlah proses migrasi, melainkan meluruskan jalan yang melenceng. Entah mengapa, sebenarnya saya tidak begitu bersemangat dibandingkan ketika membantu proses migrasi di Pemda Prov NTB.

Saya tidak akan menjelaskan secara detail sesuatu yang berkaitan dengan privasi perusahaan. Berikut saya lampirkan hal-hal penting menyangkut proses migrasi tersebut.

Sistem Operasi

Sistem operasi yang direkomendasikan dari pusat perusahaan adalah Ubuntu 9.10, tapi kami bersikeras pada pendapat bahwa mempertahankan versi lawas untuk penggunaan Desktop adalah tidak keren. Banyak masalah bisa diselesaikan jika mengikuti perkembangan versi (misal tersedianya paket di PPA untuk rilis-rilis tertentu).

Jadi kami memutuskan untuk menggunakan Ubuntu 12.04 LTS, selain solid, dukungannya juga masih sangat panjang, yakni 2017. Panjang umur Precise! Masalah versi ini sebenarnya cukup memusingkan tatkala kami mesti menyambungkan file sharing PC Ubuntu 9.10 dengan PC Ubuntu 12.04. Versi Samba yang terpaut jauh ternyata tidak selalu akur.

Untuk desktop, kami menggunakan Gnome Classic (No Effect) atau MATE agar pengguna yang sudah familiar dengan versi 9.10 bisa beradaptasi dengan cepat.

Dosemu

Aplikasi khusus perusahaan tersebut (untungnya) berjalan di bawah DOS dan Dosemu berperan penting di sini. Lupakan WINE, kami membuat Dosemu menjadi default untuk berkas berekstensi *.EXE. Entah kami mesti jengkel atau salut dengan programmer-nya yang old-styled.

Encoding CP-437

CP-437 adalah encoding yang umum digunakan di program DOS/Windows 3.1, set karakter asli dari IBM PC. Aplikasi khusus perusahaan tersebut menghasilkan berkas laporan dalam berkas berekstensi *.TXT dengan encoding CP-437. Berkas laporan tersebut berisi tabel-tabel rumit yang garisnya dibentuk oleh karakter-karakter khusus. Terpujilah masa lalu. Ini benar-benar membuat pusing. Satu-satunya (sejauh yang saya coba) aplikasi penyunting teks yang bisa membuka berkas encoding CP-437 dengan “sempurna” adalah sublime_text, sayangnya sublime_text tidak menyediakan fasilitas mencetak.

Solusi yang kami temukan adalah mengkonversi berkas tersebut ke UTF-8 dengan script kecil berikut :

#!/bin/bash
cd /home/user/path/to/files/

SAVEIF=$IFS
IFS=$(echo -en "\n\b")

for file in $(ls *TXT)
do
  name=${file%%.TXT}
  iconv -f CP437 -t UTF-8 $name.TXT > $name.print
  mv $name.print ~/Desktop/
done

Kemudian membiarkan Gedit melakukan sisanya. ūüôā

Jika pada Ms. Windows, font yang cocok untuk printer dotmatrix dan tabel dalam CP-437 adalah Courier New, maka di GNU/Linux, Freemono adalah yang paling cocok dan mirip.

Printer

Berikut daftar printer yang digunakan :

  1. LQ2180 (didukung langsung)
  2. LX300 (didukung langsung)
  3. Canon iP1980 (paket proprietary)
  4. Canon MP250 dan sebangsanya (paket proprietary)
  5. Epson Tx121 (paket proprietary)
  6. HP Deskjet Ink Advantage – lupa type (didukung langsung)

Dari keseluruhan printer Inkjet, saya sangat merekomendasikan printer merek HP. Bukan ngiklan, tapi semua fitur penggerak printernya memang sangat lengkap dan juga bebas, dan yang paling memudahkan, sudah tersedia langsung di setiap distribusi populer. Berbeda dengan penggerak proprietary Canon, yang mesti diunduh terpisah dan fiturnya lebih lengkap di versi Ms. Windows.

Bahkan setelah migrasinya selesai satu persatu, kami masih kewalahan menerima panggilan telepon dan bolak-balik sana-sini untuk menangani langsung masalah yang tersisa. Untungnya sekarang sudah selesai dan kami menerima sejumlah dana yang dibayarkan, disisihkan sebagai upeti untuk Kekaisaran Kaipang. ūüėÄ

Reblog dari blog penulis : http://blog.pdft.net/2013/11/migrasi-gnulinux-antara-masalah-teknis-dan-hasrat-aktivis/

Perpustakaan Daerah Prov NTB Goes Open Source

Kabar yang menggembirakan memang, Perpusda Prov NTB sudah menggunakan linux di ruangan Warintek Bumigora-nya. Saat kunjungan saya kesana, banyak pengunjung yang sedang menggunakan komputer bersistem operasi super OS tersebut. Bahkan billingnya (menggunakan billinghotspot, setiap klien langsung diredirect ke halaman login saat membuka browser) juga menggunakan Linux.

Sedikit bercakap2 dengan bapak yang saya lupa namanya (dari STMIK Bumigora dan kenal mas Wibi), katanya linux itu sudah dipasang berminggu2 yang lalu dan yang memasangnya adalah pihak perpusda sendiri, bukan tim migrasi NTB gOS. tetap saja, ini adalah sebuah kemajuan. terima kasih perpusda NTB! Semoga dengan bergantinya sistem operasi di komputer2 Warintek, semakin banyak yang mengenal OSS/linux.

Sosialisasi GNU/Linux di Amikom Sumbawa Besar

Alhamdulillah sosialisasi GNU/Linux menggunakan Ubuntu Super OS 9.10 dan Blankon Sajadah telah dilaksanakan di kampus AMIKOM Sumbawa Besar, jl Garuda no 104.

Sosialisasi diikuti oleh semua mahasiswa semua angkatan secara bertahap. Tiap kelas terdiri dari 30 Р40 orang peserta.

Karena keterbatasan ruang kelas, sementara peserta membludak, saking antusias dan tidak luput dari panitia yang telah melakukan persiapan jauh-jauh hari, sosialisasi dilaksanakan bergantian beberapa sesi pada hari Kamis 28 Oktober 2010.

Entah sengaja atau tidak, sosialisasi ini sekaligus memperingati “HARI¬†KEBANGKITAN LINUX OLEH PARA PEMUDA-MAHASISWA UNTUK PERTAMA KALINYA DI¬†KAMPUS AMIKOM SUMBAWA”, eh… lha… wah…. maaf, ¬†maksudnya Sumpah¬†Pemuda. kok samaan ya? mungkin sudah takdir Tuhan. ūüôā

Adapun pejuang-pejuang yang menjadi Panitia :

  1. Pak Nova,  Ketua AMIKOM Sumbawa
  2. Pak Agus, Dosen tetap
  3. Mas iwan, Tata Usaha
  4. Mbak intan, Tata Usaha
  5. BlackViruzz, dan
  6. Hidayat, Penggagas sekaligus ketua Pengguna Linux Amikom Sumbawa (Study Club)

Pemateri

  1. Pak Dony, Ktr. KPDE kab. Sbw merangkap Dosen
  2. Pak Dody, Bag. Keu kab.Sbw, dosen juga
  3. Pak Dika, Guru TKJ SMKN1 Sbw, praktisi Konsultan Warnet, dan
  4. Pak Safril, yang ngaku-ngaku pingin kayak sunan Kali Jaga¬†padahal masih belajar kepingin Taubat……

Acara dibuka resmi oleh Pak Nova, : ” dengan mengucapkan “Bissmillahirohmaanirohiiim, saya buka acara ini, …… bla… bla….¬†dst. Semoga kedepannya kita gak usah belajar pakai software bajak-bajakan lagi.”

Selesai sosialisai para dosen yang hadir langsung mengeluarkan¬†maklumat yang isinya: “ Semua tugas2 mahasiswa dikumpulkan harus
menggunakan Open Source berformat *.odt ¬†dan presentasinya juga pakai odp“.

Sebelum pulang saya (Pak Safril) langsung mendapat order membuat DVD dan Flash disk Bootable beberapa buah dan pihak kampus memerintahkan salah satu laptop dinasnya dipasangi Ubuntu Super OS full !! gak pakai mendua.

Seorang mahasiswi TIa Inez Imutz namanya juga menyerahkan laptopnya untuk diinstalkan full Blankon.

Alhamdulillah ….
Puji Tuhan …
Thanks God…

Sementara khusus untuk mahasiswa semester V akan dilaksanakan hari Rabu, tgl 3 November 2010 sore hari.

Pelapor Pandangan Pertama by Email MIlis:
Safril dari Tana Samawa – Pengikut Setia Sunan Kali Jaga

Di tulis dan diedit agar menggunakan EYD oleh Ketupang ūüôā

Migrasi OSS Kabupaten Sumbawa 11 – 15 Oktober 2010

Setelah menyelesaikan kontrak untuk mendampingi “migrasi” OSS yang diselenggarakan oleh Pemprov NTB di Gedung Sangkareang, selama 5 hari (mungkin laporannya menyusul). Saya meluncur ke Sumbawa Besar menggunakan sepeda motor dengan modal nekad dan semangat petualangan, karena sungguh, ini kali pertama saya menginjakkan kaki di Bumi-nya La Hami, pahlawan sabana yang pernah menghidupkan lamunan masa kecil saya (petualangan saya selama di Tana Sampela Samawa ini akan saya kisahkan di blog tersendiri).

Minggu siang, 10 Oktober 2010, saya tiba di Sumbawa Besar, dijemput oleh Mas Yanuar “Cingi-canga” Arafat bersama ajudannya Mas Teguh, anggota KPLI NTB yang bekerja di Kantor Pajak Pratama Sumbawa Besar, beliau adalah penghubung kami dengan pemkab selama disana.
Menyusul saya, berturut-turut datang Om Olan “Olanuxer” Wardiansyah, Farhan “Blek” Perdana, Ramiaji Lamsari, Furkan “Shinchi” Samada, mereka berempat adalah guardians dari Bima dan Dompu. Malamnya menyusul yang mulia – yang cantik Yeni Kusumawati, mewakili Kementrian Ristek dan Hasan Lamatungga, instruktur utama migrasi OSS ini. Selama di Bumi Sabalong Samalewa ini kami menginap di Hotel Tambora, tepat di seberang jalan kantor bupati.

Malam sebelum melepaskan penat, kami mendiskusikan apa-apa yang akan dilakukan dan pembagian tugas selama migrasi oss.

Senin, 11 Oktober 2010, di Aula Kabupaten Sumbawa Besar, telah hadir puluhan peserta pelatihan, undangan yang termasuk di dalamnya Kapolres, Dandim, Kepala-kepala SKPD dan lainnya. Pukul 9 lebih sedikit, acara dibuka dengan laporan panitia, sambutan kementrian ristek, dan pidato Bupati sendiri.

Tim migrasi OSS Pemkab Sumbawa

Tim migrasi OSS Pemkab Sumbawa 11 - 15 Oktober 2010

Setelah pembukaan yang saya rasa lebih meriah dibandingkan acara serupa minggu sebelumnya di Mataram – yang hanya di buka oleh Kabag apagitusayagaktausapa (saya bisa menyimpulkan keseriusan Bupati sendiri untuk melakukan migrasi menyeluruh di Kabupaten Sumbawa, ini ditindaklanjuti dengan rencana maintenance server pemkab yang dipercayakan kepada kami) acara dilanjutkan dengan diskusi panel seputar OSS dan implikasi hukumnya.

Bertindak sebagai pembicara dalam Diskusi panel adalah mbak Yeni Kusumawati (yang ini pasti saya ingat namanya he hehe), petinggi Kantor Pajak Pratama Sumbawa Besar, seorang lagi dari Kejaksaan (yang kebetulan saya kurang perhatikan namanya – karena sedang melamun he he he).

Setidaknya, acara berlangsung hidup dengan pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari peserta.

Baiklah saya singkat saja laporannya, karena …… saya sudah mengantuk!!!

Hari kedua, 12 Oktober 2010, pelatihan hari pertama dimulai. Peserta diajak mengenal lebih jauh apa itu GNU/Linux, bagaimana menginstal Ubuntu (sekedar bocoran: Ubuntu adalah official distro di tanah Bumigora, provinsi NTB) dan pengenalan desktop Ubuntu.

Hari ketiga, 13 Oktober 2010, peserta masih diajak mengeksplorasi desktopnya, melanjutkan instalasi dan troubleshooting perangkat keras dan lainnya yang tidak bekerja. Sayangnya, karena menggunakan distro SuperOS, remastering Ubuntu 9.10 yang agak “jadul”, banyak perangkat yang tidak bekerja dengan baik seperti wireless, sound, dan vga (sis) – sehingga, dengan terpaksa, beberapa laptop peserta dikarantina semalam di kamar kami untuk dioprek.

Hari keempat, 14 Oktober 2010, salah satu rekan kami, Farhan “Blek” Perdana absen karena terkena serangan gejala tifus, yang dicurigai terjadi setelah menyantap ayam goreng dari warung makan sebelah, dengan ikhlas saya menggantikan beliau mengisi materi tentang repository lokal selama 30 menit untuk para admin, karena waktu sudah menunjukkan pukul 16.29 WITA (praktis, selama berada di Sumbawa ini, saya hanya mengisi 30 menit saja dari total alokasi waktu untuk acara – ha ha ha).

What am I doing in 30 Minutes?

What am I doing in 30 Minutes?

Hari kelima, 15 Oktober 2010, kami melanjutkan materi hari sebelumnya tanpa kehadiran instruktur utama, Hasan L, karena beliau sudah kembali ke Jakarta pagi-pagi sekali. Acara berlangsung terpisah, seperti hari keempat, hanya saja, pada pukul 11.00 WITA acara ditutup dengan sedikit kata-kata yang menggugah inspirasi dan perpisahan dari panitia.

Salam Kebebasan,

amrinz signature

Laporan dari sudut pandang lain bisa di baca di:

Peran Kaipang dalam Migrasi PemProv NTB

Seperti yang telah disebutkan di atas bahwasanya Kementerian Riset dan Teknologi bersama-sama dengan seluruh stakeholder IT dan dalam kesempatan pelaksanaan kegiatan model migrasi OSS di 15 titik Provinsi/kota/kabupaten (di jadwalkan Bulan Agustus 2010 sampai dengan November 2010) RISTEK bekerjasama dengan Makara UI yang didukung oleh PT. Ardelindo Aples, POSS UI, NF dan Komunitas OSS Lokal.

nama saya, piko, saya mau menyuarakan hati saya lewat blog kpli ntb ini, dst… entah tulisan ini tujukan kepada siapa, saya cuma mau curhat sejenak.

sejak agustus dulu, koar-koar tentang migrasi perangkat lunak terbuka di lingkungan pemerintah provinsi NTB sempat membuat saya bersemangat. akhirnya, migrasi itu dilaksanakan tanggal 4-9 oktober 2010 yang mana isinya adalah tidak sesuai dengan apa yang saya perkirakan.

saya mengira demikian : ada tim migrasi dan kaipang diikutkan di dalamnya, termasuk di dalamnya bekerja di lapangan, berhadapan langsung dengan komputer milik pemerintah, bukan saja memigrasikan orang-orangnya (pelatihan PNS).

ternyata oh ternyata, peran kami di sini tidak seindah itu. kaipang hanya mendampingi pelatihan. terus terang saya kecewa.

ternyata, sudah ada tim migrasi tersendiri dan progressnya sudah berjalan 30-40 persen di kantor-kantor dinas dan itu sudah berjalan berbulan-bulan yang lalu (bahkan kaipang pun tidak diberitahu! serasa kami anak tiri di rumah sendiri). PDE NTB, mereka cerita betapa sulitnya proses migrasi itu. sebagian besar komputer yang dimigrasikan diinstall dualboot dengan windows, kalimat sebenarnya, “sangat sedikit yang diinstall linux thok, single boot.”.

wah, kapan migrasinya kalo masih dualboot dengan windows? saya berani bilang, kalau migrasi masih dualboot, NTB go open source sama saja boong, buang-buang uang rakyat.

seseorang dari PDE memberikan alasan yang masih sulit saya terima : cuma sedikit yang single boot, karena orang-orang butuh beradaptasi dulu. NTB go open source kan masih lama, 2013.

bantahannya kurang nonjok, bukankah PNS hanya perlu belajar sedikit lagi tentang sistem operasi ini dan makara UI beserta kaipang sudah memberikan pelatihan yang membosankan dan kami lelah selama 5 hari? dan bukankah dulu mereka bilang, nantinya hanya komputer tertentu (semisal program lokal khusus yang hanya berjalan di windows) yang dipasangkan dualboot? lain kata lain tindak. saya berani bertaruh, kalau dualboot, PNS akan lebih memilih booting ke windows ketimbang linux. migrasi jalan di tempat.

2013, pandai pula mengulur waktu. saya kira, kalau memang mau migrasi, ya memang harus sedikit memaksa. kalo ndak ya habis perkara, kita orang indonesia.

peran kaipang terbatas cuma di sini saja, sebagai pendamping di pelatihan PNS-nya, padahal kan kita juga punya semangat open source yang sama, bahkan semangat kami lebih besar!



%d blogger menyukai ini: